Ketika Pangan Lokal Papua Tidak Lagi Sekadar Bahan Makan, tetapi Gagasan, Pengetahuan, dan Jalan Kewirausahaan
JAYAPURA, LIGAKAMPUS.id— Perubahan besar tidak selalu dimulai dari ruang-ruang kebijakan yang megah. Kadang, ia justru dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: *apa yang kita pilih untuk diletakkan di atas piring.*
Gagasan tersebut menjadi spirit dalam *Launching Buku LOFE (Local Food Entrepreneur): Revolusi Dimulai dari Piring Makan yang diselenggarakan oleh LEKAT Papua bersama UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Cenderawasih (Uncen) pada 26 September 2026 di Balai Sosial Kamkey, Jayapura, Papua.
Buku LOFE lahir dari rangkaian aktivitas kewirausahaan berbasis pangan lokal Papua yang selama ini diinisiasi oleh UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Cenderawasih* dan didampingi oleh LEKAT Papua.
Buku ini menjadi salah satu bentuk dokumentasi sekaligus refleksi atas proses pembelajaran, praktik kewirausahaan, dan kegelisahan intelektual anak muda terhadap masa depan pangan lokal Papua.
Terdiri atas 18 esai, buku LOFE menghadirkan tulisan yang tidak berhenti pada romantisme terhadap pangan lokal. Para penulis mencoba membaca pangan Papua melalui perspektif yang kritis-konstruktif, berbasis refleksi akademik, sekaligus berorientasi pada pemecahan masalah dan pengembangan gagasan solutif.
Baca juga: Merawat Artivisme: LEKAT Papua dan CODE4YOU Hadirkan TOA di Tengah ECO FEST 4
Ke-18 esai tersebut ditulis oleh Tim UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Uncen, alumni program Code4You by LEKAT, serta Tim LEKAT Papua. Keragaman penulis ini sekaligus memperlihatkan bahwa pengetahuan tentang pangan lokal tidak seharusnya hanya menjadi milik ruang akademik, tetapi juga dapat diproduksi dari pengalaman lapangan, praktik usaha, kegelisahan anak muda, dan pengalaman komunitas.
Buku ini secara tidak langsung juga mengajukan pertanyaan yang cukup mengganggu: mengapa Papua memiliki kekayaan pangan lokal yang begitu besar, tetapi masih sering menempatkan pangan lokal sebagai pelengkap, sementara produk dari luar justru memperoleh ruang utama di pasar dan meja makan?
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena persoalan pangan lokal tidak semata-mata berkaitan dengan ketersediaan bahan pangan. Di dalamnya terdapat persoalan pengetahuan, preferensi konsumen, kreativitas produk, rantai nilai, kewirausahaan, teknologi, pasar, hingga keberpihakan generasi muda.
Dengan demikian, LOFE hadir bukan sekadar sebagai buku tentang makanan. Ia adalah upaya untuk mendokumentasikan gagasan, menguji cara pandang, dan mendorong perubahan perilaku melalui perspektif kewirausahaan berbasis pangan lokal.
“Spirit Magis” dari Piring Makan
Ketua UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Cenderawasih, Kurniawan Patma, mengatakan bahwa buku LOFE menjadi bagian dari upaya menghadirkan semangat baru dalam melihat pangan lokal Papua.
“Buku ini hadir sebagai spirit magis dalam membangun kesadaran bahwa revolusi pangan tidak harus selalu dimulai dari kebijakan yang besar dan rumit. Ia dapat dimulai dari piring makan kita sendiri. Ketika kita mulai mengenali, memilih, mengolah, membeli, dan mengembangkan pangan lokal, sesungguhnya kita sedang membangun ekosistem kewirausahaan sekaligus menjaga pengetahuan dan identitas pangan Papua,” ungkapnya.
Menurut Kurniawan, kewirausahaan berbasis pangan lokal perlu ditempatkan bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi sebagai bagian dari proses pendidikan dan pengembangan kapasitas generasi muda.
Sebab, membicarakan kewirausahaan tanpa membicarakan potensi lokal hanya akan menghasilkan generasi yang pandai berbicara tentang bisnis, tetapi belum tentu mampu melihat bisnis apa yang sebenarnya tersedia di halaman rumahnya sendiri.
Menulis untuk Menggerakkan Perubahan
Sementara itu, Rori Warwani menjelaskan bahwa Program Manager LEKAT Papua sekaligus salah satu penulis buku LOFE, menekankan bahwa tulisan sederhana dapat menjadi bagian dari proses perubahan.
“Kita dapat membawa perubahan lewat tulisan-tulisan yang sederhana. Tulisan tidak harus selalu rumit untuk menjadi penting. Kadang, sebuah tulisan justru menjadi pintu masuk untuk membuat orang bertanya, melihat kembali apa yang selama ini dianggap biasa, lalu mulai melakukan sesuatu,” jelasnya.
Baca juga: Menyisir Sudut Keindahan PLBN Skouw: Kisah Para Pengunjung yang Membawa Pulang Cerita Perbatasan
“LOFE adalah kumpulan gagasan yang lahir dari proses itu—dari pengalaman, kegelisahan, pembelajaran, dan keberanian untuk menuliskan apa yang kita lihat di sekitar kita,” sambung dia.
Menurut Rori, penulisan buku LOFE juga menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman akademik dengan pengalaman praktis. Dengan demikian, tulisan tidak berhenti sebagai produk literasi, tetapi dapat menjadi instrumen refleksi dan pemantik aksi.
Anak Muda Tidak Hanya Menjadi Penonton
Semangat tersebut juga tercermin dari keterlibatan anak muda Papua dalam penulisan buku. Regina Kudiai, salah satu penulis muda dan alumni program Code4You by LEKAT, mengatakan bahwa keterlibatan anak muda dalam buku ini menunjukkan bahwa generasi muda memiliki ruang untuk menyampaikan gagasan sekaligus mengambil bagian dalam perubahan.
“Tulisan ini menjadi bukti bahwa kita bisa bergerak, meskipun dimulai dari sesuatu yang sederhana. Sebagai anak muda, kita sering dianggap hanya sebagai penerima informasi atau generasi yang menunggu kesempatan,” ungkapnya.
Regina menambahkan bahwa keterlibatan anak muda dalam isu pangan lokal bukan sekadar tentang mempertahankan makanan tradisional, tetapi juga tentang bagaimana generasi muda mampu mengembangkan, mengemas, memasarkan, dan menciptakan nilai baru dari potensi yang dimiliki Papua.
Baca juga: “Tinggalkan Karya, Bukan Konten”: Kritik Mark Imbiri untuk Mahasiswa KKN Uncen di Yapen
Padahal, kita juga bisa menciptakan ruang, menyampaikan gagasan, menulis, belajar, dan menghasilkan sesuatu yang dapat dibaca serta dipikirkan oleh orang lain. Bagi saya, LOFE menunjukkan bahwa suara anak muda Papua memiliki tempat dalam membicarakan masa depan pangan dan kewirausahaan di tanahnya sendiri,” ujarnya.
Dari Piring ke Pasar, dari Gagasan ke Gerakan
Launching buku LOFE menjadi penanda bahwa agenda pangan lokal Papua dapat dibicarakan dengan pendekatan yang lebih luas: bukan hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai pengetahuan, sumber inovasi, ruang kewirausahaan, dan bagian dari masa depan ekonomi lokal.
Pangan lokal tidak cukup hanya dipuji dalam seremoni, difoto dalam festival, atau disebut dalam pidato. Ia membutuhkan ekosistem yang membuatnya ditanam, diolah, dikonsumsi, diperdagangkan, dikembangkan, ditulis, dan diwariskan.
Baca juga: BUMKam Fate Kampung Skouw Mabo: Menata Kelembagaan, Menggerakkan Potensi Kampung
Di titik inilah LOFE Mencoba Mengambil Peran
Melalui 18 esai yang dihimpun, buku ini menawarkan satu pesan sederhana namun cukup serius: jika ingin berbicara tentang kemandirian pangan, kewirausahaan lokal, dan masa depan Papua, mungkin kita perlu mulai dengan pertanyaan paling dekat dengan kehidupan sehari-hari—apa yang ada di piring kita hari ini? Sebab, revolusi tidak selalu datang dengan suara keras. Kadang bisa dimulai dari satu piring makan. (*)