160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

BUMKam Fate Kampung Skouw Mabo: Menata Kelembagaan, Menggerakkan Potensi Kampung

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat KKN di Kampung Skouw Mabo, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.
750 x 100 AD PLACEMENT

Oleh: Rut Penina Somisu B.Sc., MBA, Yuliana Tandi Rerung, Artika Devi Rahmadhani, Daniel Valensia Lawe, Desri Bondang, Ester Yolanda Raunsay, Melin Enzelika Lumban Tobing, Rhevael Rohbert Kehek, Fera Will,

 PROLOG

BUMKam (Badan Usaha Milik Kampung) hadir sebagai instrumen penting dalam menggerakkan ekonomi kampung melalui pengelolaan potensi lokal yang dimiliki masyarakat. Di Kampung Skouw Mabo, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, peran tersebut idealnya dijalankan oleh BUMKam Fate.

Berada di kawasan perbatasan Kota Jayapura, Skouw Mabo sesungguhnya menyimpan potensi usaha yang cukup menjanjikan, mulai dari komoditas sirkam, mahkota, dan kelapa hasil perkebunan masyarakat, hingga kawasan pantai yang berpotensi dikembangkan sebagai daya tarik wisata kampung. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya diimbangi dengan tata kelola kelembagaan yang memadai.

750 x 100 AD PLACEMENT

BUMKam Fate sebenarnya telah memiliki pengurus dan kantor atau sekretariat tetap. Akan tetapi, aktivitas administrasi dan operasional belum berjalan secara optimal. Kondisi tersebut membuat potensi usaha yang dimiliki belum dapat dikelola secara maksimal, sehingga keberadaan BUMKam belum memberikan manfaat ekonomi yang dirasakan secara luas oleh masyarakat Kampung Skouw Mabo.

Melalui tema KAMI MEMBUMI (Kolaborasi Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi Membangkitkan BUMKAM Inklusif), Kelompok 14 KKN Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih melaksanakan program pendampingan di Kampung Skouw Mabo, dengan perhatian khusus pada penguatan identitas dan tata kelola BUMKam Fate.

Dari hasil observasi dan diskusi bersama pengurus selama masa KKN, tim menemukan bahwa persoalan BUMKam Fate sesungguhnya bukan pada kurangnya potensi usaha, melainkan pada kelembagaan yang belum tertata dengan baik, mulai dari administrasi yang belum berjalan aktif, kantor yang belum berfungsi optimal, hingga pemahaman keuangan yang masih terbatas di kalangan pengurus maupun masyarakat. Temuan inilah yang kemudian menjadi dasar bagi Kelompok 14 KKN dalam merancang pendampingan selama berada di Kampung Skouw Mabo.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa menghidupkan BUMKam Fate tidak cukup hanya dengan mencari usaha baru. Langkah yang lebih mendasar adalah memperkuat kelembagaan dan tata kelolanya terlebih dahulu agar potensi yang telah dimiliki Kampung Skouw Mabo dapat dikelola secara lebih terarah dan berkelanjutan.

750 x 100 AD PLACEMENT

Potensi Usaha yang Belum Tergarap Maksimal

Sebagian besar masyarakat Kampung Skouw Mabo menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perkebunan, sementara sektor UMKM juga cukup ramai digeluti warga. Bertumpu pada kondisi tersebut, tiga komoditas utama yakni sirkam, mahkota, dan kelapa menjadi peluang usaha yang paling realistis untuk dikelola BUMKam, baik dari sisi pengelolaan maupun pemasarannya, sebagai sumber pendapatan kampung yang berkelanjutan.

Selain itu, potensi wisata kampung yang sebenarnya sudah dikenal dan dikunjungi masyarakat luar juga menjadi peluang tambahan, meski hingga kini belum dikelola secara resmi sehingga belum memberi manfaat ekonomi yang berarti.

Di sisi lain, unit usaha BUMKam Fate hingga kini masih bersifat musiman dan belum berjalan secara rutin, hanya aktif ketika ada permintaan tertentu. Produk yang dipasarkan pun masih berupa hasil mentah tanpa proses pengolahan lebih lanjut, sehingga nilai tambah ekonominya masih rendah. Keuntungan dari kegiatan usaha yang ada masih lebih banyak digunakan untuk kebutuhan operasional, seperti pemeliharaan inventaris dan honor pengurus.

750 x 100 AD PLACEMENT

Akibatnya, hasil usaha belum dapat dikembangkan lebih jauh untuk memperluas usaha maupun memberikan manfaat ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat kampung. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan BUMKAM FATE bukan semata-mata terletak pada ketersediaan potensi usaha, tetapi pada bagaimana potensi tersebut dapat dikelola secara rutin, terarah, dan memberikan nilai tambah. Karena itu, penguatan kelembagaan menjadi langkah penting sebelum BUMKam Fate melakukan pengembangan usaha dalam skala yang lebih besar.

Kelembagaan yang Rapuh: Ada Pengurus, Belum Ada Aktivitas

Salah satu temuan mendasar selama pendampingan KKN adalah bahwa BUMkam Fate sesungguhnya telah memiliki kantor atau sekretariat tetap. Sayangnya, bangunan tersebut masih tergolong baru dan belum dilengkapi sarana serta prasarana pendukung yang memadai, sehingga aktivitas administrasi dan operasional belum dapat berjalan sebagaimana mestinya. Bahkan, pengelolaan sehari-hari masih dilakukan secara terpisah dari rumah masing-masing pengurus, bukan dari kantor yang seharusnya menjadi pusat koordinasi. Kondisi ini turut menyulitkan proses koordinasi antarpengurus dan pelaksanaan program kerja secara maksimal.

Sebagai langkah awal untuk memperkuat identitas kelembagaan, tim KKN bersama pengurus BUMKam Fate memasang papan nama kantor BUMKam. Langkah ini memang sederhana, tetapi memiliki makna sebagai penanda keberadaan BUMKam Fate di tengah masyarakat.

Lebih dari sekadar penanda fisik, keberadaan papan nama diharapkan menjadi titik awal untuk menumbuhkan kembali kesadaran bahwa kantor BUMKam merupakan ruang bersama yang perlu dihidupkan melalui aktivitas administrasi, koordinasi, dan pengelolaan usaha yang lebih terarah.

Namun, keberadaan identitas kelembagaan saja tentu belum cukup. Papan nama hanyalah langkah awal, sementara keberlanjutan BUMKam Fate sangat bergantung pada konsistensi pengurus dalam menjalankan administrasi, mengelola usaha, melakukan pencatatan keuangan, serta membangun koordinasi dengan pemerintah kampung dan masyarakat.

Dengan demikian, penataan identitas perlu diikuti dengan pengaktifan kembali fungsi kelembagaan agar BUMKam Fate tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga benar-benar menjalankan perannya sebagai penggerak ekonomi kampung.

Dari sisi administrasi, aktivitas BUMKam Fate belum berjalan secara aktif sejak tahun 2024. Pembukuan, pencatatan, dan pelaporan keuangan belum dilaksanakan secara rutin, dan yang masih berjalan pun dilakukan secara manual atau tulis tangan. Sistem promosi dan pemasaran produk juga belum tersedia, sehingga jangkauan pasar produk BUMKam masih sangat terbatas dan masih bergantung pada permintaan yang datang.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penguatan BUMKam Fate tidak hanya membutuhkan pengaktifan kembali kegiatan usaha, tetapi juga peningkatan kapasitas pengurus dalam mengelola administrasi dan keuangan secara tertib.

Ketika pencatatan keuangan belum dilakukan secara konsisten dan sistematis, pengurus akan kesulitan mengetahui kondisi usaha secara utuh serta menentukan langkah pengembangan yang tepat. Dari sinilah pentingnya literasi keuangan dan pembukuan sederhana sebagai salah satu fondasi dalam membangun tata kelola BUMKam yang lebih baik.

Sosialisasi Literasi Keuangan dan Pembukuan Sederhana bagi Pengurus dan Masyarakat

Salah satu persoalan yang ditemukan dalam pengelolaan BUMKam Fate adalah masih terbatasnya pemahaman mengenai literasi keuangan dan pembukuan sederhana, khususnya pada fungsi pencatatan keuangan. Selama proses pendampingan, tim KKN menemukan bahwa pencatatan transaksi masih dilakukan secara manual tanpa sistem yang terstandar.

Kondisi ini membuat informasi mengenai pemasukan, pengeluaran, maupun kondisi kas usaha sulit dipantau secara utuh. Pada akhirnya, hal tersebut dapat menyulitkan pengurus dalam mengevaluasi perkembangan usaha dan mengambil keputusan berdasarkan kondisi keuangan yang jelas.

Sebagai upaya awal untuk menjawab persoalan tersebut, Kelompok 14 KKN Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih melaksanakan sosialisasi literasi keuangan dan pembukuan sederhana yang melibatkan pengurus BUMKam Fate dan masyarakat Kampung Skouw Mabo.

Pelibatan masyarakat menjadi penting karena pemahaman mengenai pengelolaan keuangan bukan hanya dibutuhkan oleh pengurus BUMKam, tetapi juga dapat mendukung kesiapan masyarakat dalam memahami, mengawasi, dan ikut berkontribusi terhadap perkembangan usaha kampung. Terlebih, sebagian masyarakat Skouw Mabo juga menjalankan usaha kecil sehingga pengetahuan mengenai literasi keuangan dan pembukuan sederhana dapat diterapkan dalam pengelolaan usaha masing-masing.

Materi yang disampaikan mencakup pentingnya memisahkan kas usaha dari kas pribadi, mencatat transaksi secara konsisten, memahami alur pemasukan dan pengeluaran, hingga menyusun laporan keuangan sederhana yang dapat dipertanggungjawabkan, termasuk pengenalan cara pencatatan dengan bantuan aplikasi sederhana seperti Excel agar lebih mudah dipahami dan diterapkan sehari-hari.

Melalui kegiatan ini, pengurus dan masyarakat memperoleh pemahaman mengenai cara pencatatan yang lebih tertata sebagai pengganti kebiasaan pembukuan manual yang selama ini rawan tidak lengkap, sekaligus menumbuhkan kesadaran bersama akan pentingnya keterbukaan dan ketertiban administrasi keuangan kampung.

Sosialisasi ini tidak dimaksudkan untuk langsung menyelesaikan seluruh persoalan administrasi BUMKam, melainkan sebagai fondasi awal membangun kebiasaan mencatat secara tertib, sejalan dengan semangat kolaborasi akuntansi, manajemen, dan ilmu ekonomi yang menjadi inti tema KAMI MEMBUMI.

Kolaborasi sebagai Kunci Menghidupkan BUMKam Fate

Penguatan BUMKam Fate tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Pemerintah kampung, pengurus BUMKam, masyarakat, dan perguruan tinggi memiliki peran yang saling melengkapi.

Melalui pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata bertema KAMI MEMBUMI, mahasiswa Kelompok 14 memperoleh ruang untuk menerapkan ilmu akuntansi, manajemen, dan ekonomi secara langsung di tengah kebutuhan masyarakat, sementara pengurus BUMKam dan masyarakat memperoleh tambahan wawasan mengenai pentingnya identitas kelembagaan dan literasi keuangan dalam menjalankan usaha kampung.

Pemerintah kampung sendiri memegang peran strategis, mulai dari memastikan sarana dan prasarana kantor BUMKam segera dilengkapi, hingga mendorong konsistensi pengurus dalam menjalankan tugas administratif dan operasional sehari-hari. Di sisi lain, dukungan dari instansi terkait, termasuk yang membina UMKM dan sektor pariwisata, juga dapat membuka peluang lebih besar bagi BUMKam Fate untuk mengembangkan komoditas unggulan kampung menjadi produk bernilai tambah, bukan sekadar dijual dalam bentuk mentah seperti selama ini.

Bagi mahasiswa sendiri, pengalaman mendampingi BUMKam Fate menjadi ruang belajar yang berharga untuk memahami bahwa persoalan ekonomi kampung tidak selalu terletak pada minimnya sumber daya, melainkan pada bagaimana sumber daya tersebut dikelola secara terorganisasi.

Interaksi langsung dengan pengurus dan masyarakat turut membuka wawasan bahwa perubahan kecil, seperti kehadiran identitas kelembagaan yang jelas dan kebiasaan mencatat keuangan secara tertib, dapat menjadi pijakan penting sebelum bicara soal pengembangan usaha yang lebih besar.

Ke depannya, keberlanjutan menjadi hal yang penting. Penataan sarana kantor, aktivasi kembali unit usaha komoditas sirkam, mahkota, dan kelapa, pengelolaan potensi wisata secara lebih terarah, hingga pembiasaan pembukuan yang tertib perlu terus dilanjutkan secara mandiri oleh pengurus BUMKam ke depan.

Dukungan pendampingan lanjutan dari pemerintah kampung maupun instansi terkait akan sangat menentukan apakah fondasi yang telah diletakkan dapat tumbuh menjadi kelembagaan BUMKam yang benar-benar hidup dan bermanfaat.

Epilog

Kampung Skouw Mabo memiliki modal yang sesungguhnya tidak sedikit, mulai dari komoditas sirkam, mahkota, dan kelapa, hingga potensi wisata yang telah dikenal. Yang masih menjadi tantangan adalah bagaimana BUMKam Fate dapat mengelola potensi tersebut melalui kelembagaan yang aktif, administrasi yang tertib, dan kegiatan usaha yang berjalan secara lebih konsisten.

Pendampingan yang dilakukan selama KKN melalui penguatan identitas kelembagaan dan sosialisasi literasi keuangan serta pembukuan sederhana merupakan langkah awal dalam proses tersebut.

Pemasangan papan nama menjadi penanda keberadaan BUMKam Fate, sementara sosialisasi literasi keuangan menjadi upaya untuk membangun pemahaman dasar mengenai pentingnya pencatatan dan pengelolaan keuangan yang lebih tertib.

Namun, langkah awal tersebut tidak akan berarti tanpa keberlanjutan. BUMKam Fate perlu terus menghidupkan fungsi kantor sebagai pusat koordinasi, menjalankan administrasi secara rutin, membangun sistem pencatatan keuangan yang konsisten, serta mengelola potensi usaha yang telah dimiliki kampung secara lebih terarah.

Dengan demikian, BUMKam Fate tidak hanya memiliki identitas secara kelembagaan, tetapi juga memiliki aktivitas dan tata kelola yang mampu mendukung kebermanfaatannya bagi masyarakat.

Sejalan dengan semangat KAMI MEMBUMI, kebangkitan BUMKam Fate tidak harus dimulai dari langkah yang besar. Perubahan dapat dimulai dari hal-hal mendasar: kelembagaan yang tertata, pengurus yang aktif, pencatatan yang tertib, serta kemauan untuk mengelola potensi kampung secara bersama-sama.

Pada akhirnya, keberhasilan BUMKam Fate tidak akan ditentukan oleh satu program kerja atau satu masa KKN saja. Keberlanjutannya bergantung pada konsistensi pemerintah kampung, pengurus BUMKam, masyarakat, dan pihak-pihak terkait dalam merawat serta mengembangkan apa yang telah dirintis bersama.

Harapannya, langkah-langkah kecil tersebut dapat menjadi pijakan bagi BUMKam Fate untuk tumbuh menjadi lembaga yang benar-benar mampu menggerakkan potensi dan mendukung kemandirian ekonomi Kampung Skouw Mabo.

Penulis adalah Dosen Pendamping Lapangan dan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih

750 x 100 AD PLACEMENT
You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT