Jayapura – Senyum lega bercampur haru tergambar jelas di wajah Maikel Walilo. Pria muda yang baru saja resmi menyandang gelar Sarjana Ekonomi Pembangunan (S.E) ini tak henti-hentinya mengucap syukur.
Baginya, berdiri di momen yudisium bukanlah sekadar pencapaian akademik biasa, melainkan buah manis dari keyakinan dan perjuangan panjang yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
“Puji Tuhan, yang pertama saya merasa sangat bersyukur karena tidak menyangka bisa sampai di tahapan ini. Tapi iman saya selalu berbisik bahwa selalu ada harapan,” ungkap Maikel dengan mata berbinar, merefleksikan perjalanannya sesaat setelah prosesi yudisium selesai.
Perjalanan Michael menuju gelar sarjana tidak dilalui di jalan yang mendatar. Sebagai pemuda yang merantau dari daerah pedalaman, ia harus berhadapan dengan gegar budaya (culture shock) saat pertama kali menginjakkan kaki di lingkungan kampus yang heterogen.
“Tantangan awal saat masuk adalah menghadapi orang-orang yang berbeda. Saya dari pedalaman, datang ke sini dan bertemu dengan teman-teman yang memiliki dialek, bahasa, dan etika yang jauh berbeda dari saya,” kisahnya.
Namun, alih-alih menyusut dan menutup diri, Maikel memilih jalan yang berani. Ia menyadari bahwa modal utamanya untuk bertahan hidup dan berkembang di kota bukanlah uang, melainkan kepercayaan diri. “Saya memberanikan diri. Keberanian dan kepercayaan diri itulah yang saya gunakan untuk menghadapi teman-teman maupun dosen.
Kesenjangan antara saya yang dari pedalaman dan mereka yang lahir di kota, saya patahkan dengan keberanian.”
Ujian berikutnya yang kerap menjadi momok bagi mahasiswa perantau adalah masalah finansial. Menariknya, Maikel memiliki sudut pandang yang luar biasa matang dalam menyikapi persoalan ekonomi. Kata “mengeluh” tampaknya tidak ada dalam kamus perjuangannya.
“Kalau soal keuangan, saya tidak pernah mengeluh. Saya selalu berpikir, selagi kita masih bernapas dan Tuhan memberi kehidupan, saya bisa berusaha,” ujarnya mantap.
Ia menceritakan momen-momen kritis ketika tenggat waktu pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT), tinggal menghitung minggu.
Bukannya larut dalam kepanikan memikirkan dari mana datangnya uang, Maikel justru mengubah pola pikirnya untuk mencari peluang. “Dalam waktu dekat itu, saya tidak memikirkan ‘uang’, tapi saya memikirkan ‘pekerjaan’.
Dan benar saja, Tuhan selalu mengirimkan pekerjaan sehingga saya bisa membiayai UKT saya sendiri.”
Kini, dengan ijazah sarjana di tangan, Maikel menatap masa depan dengan pragmatis dan optimis. Ia bukan tipe lulusan yang akan kebingungan mencari arah, sebab insting wirausahanya telah terasah jauh sebelum hari kelulusan tiba.
“Rencana saya setelah ini adalah menjalankan bisnis. Ini bukan usaha yang baru mau dirintis, tapi usaha yang memang sudah berjalan sejak saya masih kuliah. Jadi, saya tidak akan merasa menjadi pengangguran,” jelasnya.
Meski telah memiliki usaha dan mengantongi gelar Sarjana Ekonomi Pembangunan, Maikel tetap rendah hati dan terbuka terhadap berbagai peluang profesional.
Sembari mengembangkan bisnisnya, ia kini juga masih aktif bekerja di area sekitar kampus. “Saya tidak pilih-pilih pekerjaan. Di mana pun Tuhan memberikan jalan, saya siap bekerja. Pengalaman adalah modal utama, sehingga di mana saja ditempatkan, saya pasti bisa bekerja.”
Sebagai mahasiswa yang berhasil merampungkan studinya, Maikel membuktikan bahwa manajemen waktu dan penentuan prioritas adalah kunci mutlak. Ia merangkum perjalanannya dalam satu pesan kuat bagi adik-adik tingkatnya yang masih berjuang di bangku kuliah.
“Modal utama kuliah itu bukan uang, tapi adik-adik harus aktif, percaya diri, dan jangan pernah merasa bahwa keterbatasan itu adalah kesialan,” pesannya tegas.
Bagi Maikel, bekerja sambilan di masa kuliah adalah hal yang wajar, namun mahasiswa tidak boleh kehilangan arah. “Pendidikan harus selalu menjadi prioritas utama. Kalau kita bisa memprioritaskan dan memanajemen waktu dengan baik, pasti kita akan selesai tepat waktu. Tetap semangat, fokus pada tujuan, dan jangan menyerah.”
Kisah Maikel Walilo menjadi cerminan nyata bahwa gelar akademik bukan sekadar deretan huruf di belakang nama, melainkan akumulasi dari ketangguhan mental, adaptasi, dan keyakinan yang tak pernah padam di tengah keterbatasan. (Alyn Beay)