Jayapura – Jika ada kata yang maknanya lebih dalam dari sekadar “senang”, mungkin kata itulah yang paling tepat untuk mendeskripsikan perasaan Mirna Kristina.
Hari itu, Mirna senyum lega dan raut haru tak lepas dari wajahnya. Mahasiswi lulusan Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ottow Geisller Papua ini baru saja merayakan kemenangannya menyandang gelar sarjana manajemen (S.M), sebuah pencapaian yang diraih melewati jalan terjal penuh keringat dan air mata.
“Mengucap syukur sekali sama Tuhan, karena dalam setiap perjalanan dan pergumulan, Tuhan selalu menolong. Kalau ditanya perasaan, dibilang senang saja tidak cukup.
Aduh, senang sekali rasanya bisa sampai di titik ini karena rintangan dan cobaannya cukup banyak,” ungkap Mirna dengan mata yang berbinar-binar.
Perjalanan akademik Mirna jauh dari kata mulus. Jauh dari pandangan orang tua di tanah rantau menjadi ujian mental pertamanya. Namun, ujian sesungguhnya yang paling mendesak adalah realita finansial.
Sebagai mahasiswa, Mirna memang tercatat sebagai salah satu penerima beasiswa KIP Kuliah.
Namun, tingginya biaya hidup seringkali membuat dana tersebut terasa kurang. “Biaya dari KIP Kuliah itu kurang cukup untuk menutupi biaya kos, makan sehari-hari, dan kebutuhan kuliah lainnya. Jadi, untuk bertahan, sambil kuliah kita harus berjualan dan bekerja,” kenangnya.
Tantangan tidak berhenti pada urusan bertahan hidup. Di ruang kelas, Mirna dihadapkan pada standar akademik yang disiplin. Kualitas dosen yang mumpuni menuntutnya untuk terus memacu diri; tertinggal sedikit saja, ia harus bekerja ekstra keras untuk mengejar ketertinggalan.
Fase terberat tiba di penghujung masa studi: skripsi. Proses pencarian data penelitian rupanya memakan biaya yang tidak sedikit, melemparnya kembali pada persoalan finansial yang pelik.
Puncaknya terjadi di ruang ujian skripsi, saat ia harus menghadapi berondongan pertanyaan dosen penguji yang kritis dan mengecoh.
“Mendapatkan biaya untuk riset itu tidak mudah. Belum lagi pertanyaan dosen saat ujian lumayan mengecoh. Saking banyaknya tantangan, kadang sampai bingung mau memikirkan yang mana duluan,” tuturnya seraya tertawa kecil mengenang masa-masa menegangkan tersebut.
Himpitan ekonomi tak lantas membuat Mirna menyerah. Sebaliknya, hal itu mengasah insting wirausahanya.
Usaha berjualan risol yang awalnya menjadi “sekoci penyelamat” untuk menyambung hidup semasa kuliah, kini justru menjadi peta jalan masa depannya.
Setelah lulus, Mirna memiliki visi yang jauh lebih besar dari sekadar mencari aman. “Saya pasti akan melanjutkan usaha berjualan risol.
Saya tidak mau risol saya hanya dikenal di kalangan kampus atau teman-teman sekitar saja. Saya mau semua orang di Jayapura bisa merasakan risol buatan saya,” tegasnya penuh keyakinan.
Meski memiliki ambisi besar di dunia usaha, Mirna tetap bersikap realistis. Ia berencana mencari pekerjaan formal untuk membangun fondasi ekonomi yang lebih kuat demi menopang pengembangan usahanya.
Sebelum melangkah pergi dari kampus yang telah mendidiknya, Mirna menitipkan pesan yang sangat membumi bagi adik-adik tingkatnya. Kuncinya, menurut Mirna, bukan sekadar memiliki otak yang cerdas, melainkan mental yang tangguh dan ketekunan.
“Semangat terus, pantang menyerah. Buat teman-teman yang masih malas pergi ke kampus, kalian harus rajin.
Mungkin nilai akademik kita biasa saja, tapi dengan rajin hadir, dosen punya penilaian tersendiri terhadap kesungguhan kita. Berjuanglah sampai mendapat gelar yang diimpikan,” pesannya menutup perbincangan.
Perjalanan Mirna Kristina adalah bukti nyata. Bahwa dengan ketekunan, keberanian melawan rasa malas, dan sepotong risol yang dijajakan penuh harapan, gelar sarjana bukanlah mimpi yang mustahil untuk digenggam. (Alyn Beay)