160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

BUMKam Henticahi Bangkit: Menata Usaha, Merajut Potensi Kampung Holtekamp

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, saat melakukan KKN di Kampung Holtekamp, Kota Jayapura, Papua.
750 x 100 AD PLACEMENT

Oleh: Klara Wonar, S.E., M.Ak, Agnes Neno Kofi, Fictor Kiwo, Febrian Gessong Baunik, Rositha Asmuruf, Sara Tabitha Kambuaya, Sandra Waymta Asmuruf, Marice Rumbrawer, Myssellin Laswartin Wayoi

 Prolog

Kampung Holtekamp di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, memiliki Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) bernama BUMKam Henticahi. Dibandingkan BUMKam di kampung-kampung sekitarnya, BUMKam Henticahi tergolong cukup maju karena sudah mengelola tiga unit usaha, yaitu depot air isi ulang (galon), BUMKam Mart, dan pom mini.

Dari ketiga unit tersebut, depot air isi ulang paling dirasakan manfaatnya oleh warga karena BUMKam menyediakan layanan antar langsung ke rumah, sehingga masyarakat lebih mudah memperoleh air bersih.

750 x 100 AD PLACEMENT

Meskipun demikian, BUMKam Henticahi masih menghadapi beberapa kendala. Unit pom mini belum berjalan optimal karena pasokan bahan bakar minyak (BBM) yang terbatas, sedangkan BUMKam Mart masih sepi pengunjung akibat promosi yang kurang maksimal dan minimnya partisipasi masyarakat. Dari sisi administrasi, pencatatan keuangan BUMKam memang sudah menggunakan Microsoft Excel, namun laporan keuangan tahun 2025 belum balance (seimbang).

Di sisi lain, sebagian besar pelaku UMKM di sekitar kampung masih mencatat transaksinya secara manual dan tidak lengkap. Belum optimalnya penerapan Peraturan Kampung (Perkam) juga turut membatasi peningkatan Pendapatan Asli Kampung dari usaha-usaha yang beroperasi di wilayah tersebut.

Baca juga: Menembus Batas Literasi: Merajut Pemberdayaan di Dunia Pendidikan dan Pembukuan Sederhana Sesuai Realitas Pengurus BUMKam Kampung Yanamaa

Kondisi ini sejalan dengan hasil penelitian Korwa dkk. (2026) yang menunjukkan bahwa perencanaan keuangan dan sistem pengawasan berpengaruh signifikan terhadap efektivitas pengelolaan dana BUMKam. Usman (2023) juga menegaskan pentingnya sumber daya manusia dan struktur organisasi yang memadai dalam pelaksanaan kebijakan BUMDes/BUMKam di Kampung Holtekamp.

750 x 100 AD PLACEMENT
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Holtekamp. Nampak mereka bersama anak-anak di kampung tersebut.

Berangkat dari kondisi tersebut, kehadiran mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 12 dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih menjadi penting untuk mendampingi pengurus BUMKam Henticahi dalam memperbaiki tata kelola administrasi, keuangan, dan pemasaran usahanya.

 Isi (Refleksi dan Aksi KKN)

Hasil observasi lapangan yang dilakukan mahasiswa KKN Kelompok 12 menunjukkan bahwa persoalan BUMKam Henticahi terletak pada dua sisi. Di satu sisi, tata kelola administrasi dan keuangan belum sepenuhnya tertib. Di sisi lain, potensi ekonomi lokal seperti wisata Pantai Holtekamp, hasil laut, serta hasil kebun (pisang, kelapa, keladi, petatas, dan pinang) belum tergarap secara maksimal karena minimnya pendampingan kelembagaan dan belum adanya struktur organisasi yang khusus menangani pengembangan potensi tersebut.

Sebagai langkah awal, mahasiswa KKN Kelompok 12 juga mengadakan sosialisasi bersama warga dan pengurus BUMKam mengenai pengembangan potensi Kampung Holtekamp untuk meningkatkan ekonomi masyarakat melalui BUMKam.

750 x 100 AD PLACEMENT

Baca juga: Semangat Kebersamaan dan Partisipasi Jadi Kunci Keberhasilan BUMkam Yabu Eruwok di Kampung Baburia Keerom

Dari sudut pandang Akuntansi dan Ilmu Ekonomi, persoalan ini dapat dilihat dari keterkaitan antara perencanaan keuangan, pengawasan, dan efektivitas pengelolaan dana. Penelitian Korwa dkk. (2026) pada BUMKam Wariori Indah membuktikan bahwa perencanaan keuangan (koefisien 0,580) dan sistem pengawasan (koefisien 0,409) sama-sama memberikan kontribusi signifikan terhadap efektivitas pengelolaan dana.

Temuan ini relevan dengan kondisi BUMKam Henticahi, di mana laporan keuangan tahun 2025 yang belum balance menunjukkan lemahnya mekanisme pencatatan dan pengawasan internal sejak awal.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, mahasiswa KKN Kelompok 12 merancang dan melaksanakan beberapa program pendampingan administrasi dan keuangan, di antaranya penyusunan Buku Kas Umum (BKU) sebagai media pencatatan transaksi kas, pembuatan Daftar Hadir Karyawan Depot Air Isi Ulang, penyusunan Kartu Inventaris Ruangan (KIR), penyusunan Laporan Keuangan BUMKam Tahun 2026, serta penelusuran dan perbaikan Laporan Keuangan Tahun 2025 yang sebelumnya tidak balance.

Selain itu, mahasiswa juga mengusulkan diversifikasi usaha berupa jasa print dan fotocopy di BUMKam Mart, mengingat lokasinya yang berdekatan dengan sekolah dan permukiman warga sehingga berpotensi menambah pengunjung sekaligus pendapatan.

Proses pendampingan dilakukan bersama pengurus BUMKam melalui diskusi rutin dan pendampingan langsung, termasuk pemberian rekomendasi terkait perbaikan operasional, peningkatan kualitas pelayanan, serta strategi pemasaran BUMKam Mart melalui pemanfaatan media sosial.

Baca juga: Menata Kepengurusan, Menumbuhkan Harapan: Revitalisasi BUMKam Hensi Ofa di Kampung Mosso  

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat KKN di Kampung Holtekamp. Mereka terlihat senang mengikuti KKN di kampung tersebut.

Selain pendampingan BUMKam, mahasiswa juga mengadakan edukasi literasi keuangan bagi anak-anak di sekitar posko KKN, dengan materi seputar pentingnya menabung dan mengelola uang saku secara sederhana melalui permainan dan diskusi interaktif.

Dampak awal dari pendampingan ini mulai terlihat, terutama pada pencatatan yang lebih rapi, dokumen administrasi karyawan dan inventaris yang lebih tertata, serta laporan keuangan yang berangsur-angsur dapat dipertanggungjawabkan. Anak-anak yang mengikuti kegiatan literasi keuangan juga menunjukkan antusiasme (Semangat tinggi)  dan mulai memahami manfaat menabung sejak dini.

Meski begitu, mahasiswa menyadari bahwa perubahan yang lebih mendasar, seperti kesadaran masyarakat untuk berpartisipasi dalam BUMKam Mart dan optimalisasi Peraturan Kampung, membutuhkan waktu dan keberlanjutan pendampingan yang lebih panjang.

Melalui rangkaian kegiatan ini, mahasiswa KKN Kelompok 12 memperoleh pembelajaran berharga tentang pentingnya kolaborasi lintas disiplin ilmu Akuntansi dan Ilmu Ekonomi dalam pemberdayaan ekonomi kampung.

Baca juga: Setahun Berlalu, BUMKam Nupmana Koya Tengah Menanti Pengelolaan yang Lebih Baik

Mahasiswa juga semakin memahami bahwa keberhasilan BUMKam tidak semata ditentukan oleh besarnya dana, melainkan oleh kualitas tata kelola, konsistensi pencatatan, dan partisipasi aktif masyarakat, sebagaimana ditegaskan pula oleh Zulfiana dkk. (2026) bahwa pengembangan potensi lokal memerlukan perencanaan dan pengelolaan yang tepat agar benar-benar menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

 Epilog (Kesimpulan dan Saran)

Secara keseluruhan, program KKN Kelompok 12 di Kampung Holtekamp berhasil membantu BUMKam Henticahi memperbaiki administrasi dan pelaporan keuangan, mengusulkan diversifikasi usaha, serta menumbuhkan kesadaran literasi keuangan pada generasi muda kampung.

Kontribusi ini menegaskan bahwa kolaborasi Akuntansi dan ilmu Ekonomi mampu menjawab persoalan nyata di lapangan, mulai dari pembenahan laporan keuangan yang tidak balance hingga penguatan potensi ekonomi lokal yang belum tergarap secara maksimal.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat KKN di Kampung Holtekamp. Mereka terlihat mengambil data mengenai BUMKam yang ada di kampung tersebut.

Ke depan, pengurus BUMKam Henticahi diharapkan dapat melanjutkan tertib administrasi dan pengawasan keuangan yang telah dirintis, sementara pemerintah kampung perlu mempercepat penerapan Peraturan Kampung (Perkam) agar kontribusi usaha-usaha di wilayahnya dapat meningkatkan Pendapatan Asli Kampung secara optimal.

Baca juga: Kolam Renang Belum Optimal, Potensi Ekonomi Tertahan: PR Besar BUMKam Kensuwri Kampung Dukwia

Pihak universitas dan mahasiswa KKN berikutnya juga disarankan untuk melanjutkan pendampingan, khususnya pada pengembangan potensi wisata Pantai Holtekamp dan penguatan kapasitas pencatatan keuangan pelaku UMKM, agar program yang telah dimulai dapat berjalan berkelanjutan dan benar-benar berdampak bagi kesejahteraan masyarakat Kampung Holtekamp. (*)

 Penulis adalah Dosen Pendamping Lapangan dan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Ekonomi dna Bisnis, Universitas Cenderawasih

 

750 x 100 AD PLACEMENT
You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT