Penulis: Emanuela Mapiana Degei
JAYAPURA-Nampak terlihat jelas aktivitas masyarakat Indonesia dan Papua New Guinea (PNG) di kawasan Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Skouw, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Provinsi Papua.
Di kawasan PLBN Skouw, dua bangunan peribadatan berdiri berdampingan. Masjid dan Gereja menjadi pemandangan yang menyambut masyarakat saat beraktivitas di kawasan perbatasan antara Indonesia-Papua Nugini.
Lingkungan sekitar area Masjid dan Gereja terlihat sangat bersih, asri, rindang, dan suasana tempat ibadah yang teduh.
Masjid dan Gereja ini diresmikan bersamaan dengan pasar dan Gedung PLBN Skouw oleh Presiden Joko Widodo pada 9 Mei 2017.
Meski aktivitas keagamaan berjalan masing-masing, namun masyarakat tetap menjaga sikap saling menghormati dan menghargai sebagai wujud toleransi di perbatasan.
Baca juga: Menyisir Sudut Keindahan PLBN Skouw: Kisah Para Pengunjung yang Membawa Pulang Cerita Perbatasan
Kedekatan keduanya bukan hanya menunjukkan letak bangunan, tetapi juga memperlihatkan kehidupan masyarakat yang hidup bersama dalam keberagaman.
Kawasan PLBN Skouw tidak hanya menjadi pintu perlintasan antara masyarakat Indonesia dan Papua Nugini dalam melakukan transaksi jual-beli dan menikmati pariwisata, namun relasi antara kedua agama tetap hidup.

Di tengah aktivitas pegawai PLBN, pedagang dan pembeli di pasar Skouw, petugas keamanan, seperti TNI, Polri, Security dan masyarakat yang datang dari berbagai latar belakang yang berbeda, kawasan ini juga memperlihatkan bagaimana kehidupan antarumat beragama berlangsung yang berdampingan dalam keseharian.
Mengenal Masjid AL-Hijrah
“Kalau di sini kami saling kerja sama. Kalau ada kegiatan di gereja dan kami dibutuhkan, kami membantu,” ujar Pengurus Masjid Al-Hirjah, Laode, saat ditemui di lokasi PLBN Skouw.
Kata Laode, umat Masjid Al-hijrah ada sekitar 100 umat yang datang menunaikan ibadah sholat setiap harinya. Sedangkan, khusus hari Jumat ada sekitar 150 umat yang melaksanakan ibadah sholat.
Umat Islam yang melaksanakan ibadah di Masjid Al-Hijrah ini terdiri dari pegawai PLBN Skouw, petugas keamanan, baik TNI, Polri dan Security serta para pembeli dan penjual yang datang dan berada di wilayah perbatasan.
Baca juga: BUMKam Fate Kampung Skouw Mabo: Menata Kelembagaan, Menggerakkan Potensi Kampung
“Masjid Al-hijrah terbuka bagi siapa saja umat muslim yang datang untuk beribadah. Pengurus masjid pun sangat terbuka dalam kegiatan kerjasama bila ada kegiatan yang membutuhkan bantuan mereka, mereka sangat siap dalam membantu dalam lintas agama,” ungkap Laode Hadirin.
Pengurus masjid mengalami kendala kurangnya aliran air di dalam masjid. Hal ini lantaran kondisi cuaca yang kemarau menyebabkan air bersih tidak mengalir selama beberapa minggu.
Untuk itu, ditribusi air bersih dibantu oleh jamaah-jamaah yang berjualan di dalam pasar, tetapi setidaknya harus ada aliran air di dalam masjid demi kelancaran, kenyamanan, dan ketertiban dalam peribadatan.
“Karena sementara ini kami tidak ada air. Jadi mau tidak mau kita minta bantu di jamaah-jamaah di sini. Tapi untuk perbatasan sementara ini air yang kurang,” kata Laode.
Mengenal Gereja GKI Eriene
GKI Jemaat Eriene, menjadi salah satu gereja yang berada di perbatasan RI-PNG, khususnya berada di kawasan PLBN Skouw.

Gereja ini sangat berdekatan dengan pemukiman para pegawai PLBN Skouw serta pasar yang menghubungkan para penjual asal Indonesia dan para pembeli asal Papua Nugini yang datang berbelanja setiap Kamis dan Sabtu dalam seminggu.
Gereja Eriene dikelola di bawah naungan GKI di Tanah Papua. Jemaat di gereja ini sekitar 30 orang dengan 7 Kepala keluarga.
Baca juga: Menggali Potensi, Membangun Kemandirian: Penguatan BUMKam Ja’a Nene di Kampung Skouw Sae
Vikaris Gereja GKI Jemaat Eriene, Eli Swabra menjelaskan bahwa dirinya dibantu oleh beberapa jemaat yang ada di sini untuk pelaksanaan ibadah setiap hari Minggu dan ibadah-ibadah perkumpulan lainnya, seperti ibadah Persekutuan Kaum Bapa (PKB), ibadah Persekutuan Wanita (PW) dan Persekutuan Anggota Muda (PAM).
Lain itu, di Gereja GKI Jemaat Eriene tidak ada rayon-rayon seperti gereja pada umumnya, sebab lokasi ini berada di daerah perbatasan dan jemaat yang beribadah kebanyakan merupakan pegawai PLBN dan warga sekitar lokasi perbatasan.
“Selama ini hubungan toleransi antara umat beragama di lokasi perbatasan PLBN Skouw berjalan dengan baik,” ujarnya.
Sekitar tahun 2022-2023, Gereja GKI Jemaat Eriene pernah membuka Sekolah Pendidikan Usia Dini (PAUD) yang diikuti anak-anak sekitar, termasuk anak-anak dari Kampung Wutung, Papua Nugini.
Yeret, Anggota Jemaat GKI Eriene yang juga merupakan pegawai PLBN Skouw, saat itu dipercaya menjadi Kepala Sekolah PAUD.
Yeret mengakui bahwa pelaksanaan Sekolah PAUD berjalan dengan baik dan diikuti oleh anak-anak usia dini yang ada di Indonesia dan Papua Nugini. Pelaksanaan PAUD dilakukan di gedung Gereja GKI Jemaat Eriene.
“Sejumlah pedagang umat muslim juga ingin menyekolahkan anak-anak mereka. Namun, mereka berharap kegiatan belajar dilaksanakan di luar gedung gereja. Karena belum tersedia tempat lain, kegiatan tetap berlangsung di dalam gereja, sehingga anak-anak tersebut tidak bergabung,” jelasnya.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak memengaruhi hubungan antarumat beragama di kawasan PLBN Skouw. Kehidupan masyarakat tetap berlangsung harmonis dengan saling menghormati keyakinan masing-masing, sekaligus tetap saling menjaga satu dan lainnya.
Di kawasan perbatasan, toleransi tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan bersama atau melalui satu keyakinan. Kadang toleransi hadir dalam bentuk yang sederhana, yaitu saling menghormati ruang ibadah, keyakinan, dan kehidupan masing-masing.
Baca juga: 88 Mahasiswa HI Fisip Uncen Magang di 22 Instansi dan lembaga Mitra, Ada yang Magang di KBRI Vietnam
Kedekatan Masjid Al-Hijrah dan Gereja GKI Jemaat Eriene menjadi pengingat bahwa perbedaan tidak menghalangi masyarakat untuk hidup berdampingan, kedua tempat ibadah ini menjadi simbol bersatunya perbedaan dalam lingkungan hidup yang sama, dan tetap menghargai satu sama lainnya. (*)