160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Menata Kepengurusan, Menumbuhkan Harapan: Revitalisasi BUMKam Hensi Ofa di Kampung Mosso  

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat KKN di Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.
750 x 100 AD PLACEMENT

Oleh: Erna A. Ismail, SE, Demitera Wonda, Ruben Sawaki, Dina P Tegai, Ning Angria Ramadhani, Morauli Novi Geisni Sianturi, Maria Marta Jatipai, Maylanei Lambe, Tasya Diah Indriyani Chadaton

Prolog

Kampung Mosso merupakan salah satu kampung yang terletak di Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, tepat di wilayah perbatasan Republik Indonesia dengan Papua Nugini. Kampung ini dikenal memiliki potensi wisata alam indah, terutama keberadaan sumber air panas alami, di samping daya tarik lain seperti kali biru, air terjun, kolam pemancingan, dan desa adat.

Untuk menopang perekonomian masyarakat berbasis potensi tersebut, kampung ini mendirikan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) bernama Hensi Ofa, yang diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi sekaligus wadah bagi warga untuk mengembangkan usaha, termasuk di sektor kepariwisataan, secara bersama-sama.

750 x 100 AD PLACEMENT

Kehadiran BUMKam Hensi Ofa membawa harapan besar bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat kampung melalui pengelolaan potensi lokal yang lebih terarah.Namun, berdasarkan hasil observasi awal yang dilakukan mahasiswa KKN, BUMKam Hensi Ofa masih menghadapi beberapa tantangan dalam menjalankan fungsi dan perannya sebagai lembaga ekonomi kampung.

Berbagai kendala tersebut secara umum berkaitan dengan aspek pengelolaan administrasi dan keuangan, pengembangan unit usaha, strategi pemasaran, serta partisipasi masyarakat dalam mendukung keberlangsungan kegiatan BUMKam. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi yang dimiliki BUMKam belum dapat dimanfaatkan secara optimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Baca juga: Setahun Berlalu, BUMKam Nupmana Koya Tengah Menanti Pengelolaan yang Lebih Baik

Kondisi tersebut menjadi alasan penting bagi mahasiswa KKN untuk hadir dan berkontribusi secara nyata. Melalui pendekatan kolaboratif lintas disiplin ilmu, yaitu Akuntansi dan Ilmu Ekonomi, mahasiswa berupaya membantu pengurus BUMKam Hensi Ofa menata ulang sistem pengelolaan usaha agar lebih tertib, transparan, dan berdaya saing, sejalan dengan semangat tema KAMI MEMBUMI.

750 x 100 AD PLACEMENT

 Isi

 Kampung Mosso merupakan kampung yang memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, mulai dari hutan, sungai, perikanan air tawar, pemandian air panas, hingga komoditas vanili. Sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai petani dan pemburu, sehingga potensi tersebut menjadi modal utama untuk mengembangkan ekonomi kampung secara berkelanjutan.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.

Selain itu, Kampung Mosso memiliki BUM Kampung Hensi Ofa yang berperan dalam mengembangkan unit usaha sesuai kebutuhan masyarakat, salah satunya penyediaan air bersih melalui usaha penukaran galon air minum. Dukungan pemerintah, semangat gotong royong masyarakat, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia menjadi peluang besar untuk mewujudkan kemandirian ekonomi kampung. Dengan pengelolaan yang baik, potensi Kampung Mosso diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mendorong pembangunan kampung yang berkelanjutan.

Berdasarkan hasil observasi lapangan yang dilakukan dengan metode wawancara kepada kepala kampung, pengurus BUMKam dan aparat kampung. BUMKam Hensi Ofa telah berbadan hukum sejak Tahun 2024. Unit usaha yang dijalankan oleh BUMKam Hensi ofa pada tahun 2025 yaitu usaha simpan pinjam.

750 x 100 AD PLACEMENT

Mahasiswa KKN mengidentifikasi beberapa persoalan utama yang dihadapi BUMKAM Hensi Ofa dalam menjalankan usaha simpan pinjamnya, yaitu keterbatasan sumber daya manusia (SDM) dalam memahami fungsi, tujuan, serta mekanisme pengelolaan usaha simpan pinjam, belum adanya sistem administrasi keuangan yang sederhana namun tertib, terbatasnya kemampuan pengurus dalam menyusun laporan usaha, serta rendahnya kesadaran sebagian anggota dalam mengembalikan pinjaman tepat waktu.

Baca juga: Kolam Renang Belum Optimal, Potensi Ekonomi Tertahan: PR Besar BUMKam Kensuwri Kampung Dukwia

Persoalan pengembalian pinjaman ini menjadi tantangan tersendiri karena berdampak langsung pada perputaran modal usaha simpan pinjam, yang seharusnya menjadi sumber penguatan ekonomi warga Kampung Mosso secara berkelanjutan.

Apabila kondisi ini terus berlanjut, maka kemampuan BUMKam dalam memberikan layanan pembiayaan kepada masyarakat akan semakin terbatas dan berpotensi menghambat perannya sebagai lembaga ekonomi kampung yang mendukung peningkatan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.

Adapun pencatatan keuangan yang masih dilakukan secara manual dan belum tertata rapi, sehingga sulit untuk mengetahui posisi laba-rugi usaha secara akurat. Selain itu, pemasaran produk masih terbatas pada lingkup kampung dan belum memanfaatkan media digital, sementara partisipasi masyarakat dalam kegiatan BUMKam juga belum optimal akibat minimnya sosialisasi mengenai manfaat dan program kerja lembaga ini.

Oleh karena itu, diperlukan berbagai upaya perbaikan dan penguatan kapasitas pengelolaan agar BUMKAM mampu berkembang menjadi lembaga usaha yang lebih efektif, mandiri, dan berkelanjutan.

Dari sudut pandang akuntansi, tidak adanya pencatatan yang sistematis atas transaksi simpan pinjam, menyulitkan pengurus dalam memantau posisi pinjaman yang beredar dan menilai kinerja usaha secara akurat, sebagaimana ditegaskan bahwa akuntansi berperan penting dalam menciptakan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan organisasi berbasis komunitas (Wahyuni et al., 2024).

Baca juga: BUMKAM & Romantisme Kemandirian: Membangun Ekosistem, Bukan Sekedar Mendirikan Lembaga

Dari perspektif manajemen, lemahnya pembagian tugas antarpengurus serta belum adanya prosedur dalam pengajuan dan penagihan pinjaman turut ikut menghambat efektivitas pengelolaan organisasi (Rohman & Arifin, 2020). Sementara itu, dari sisi ilmu ekonomi, rendahnya kesadaran dan literasi keuangan anggota mengenai pentingnya disiplin mengembalikan pinjaman menyebabkan dana tidak dapat dioptimalkan sepenuhnya bagi kesejahteraan bersama (Arizal et al., 2023).

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat KKN di Kampung Moyo. Mereka berdialog dengan masyarakat, terkait BUMKam yang ada di kampung tersebut.

Di sisi lain, hasil observasi lapangan menunjukkan bahwa Kampung Mosso memiliki potensi usaha yang dapat dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Kondisi geografis kampung dan letak Kampung Mosso yang relatif jauh dari pusat perdagangan atau pasar terdekat serta keterbatasan akses air bersih menjadikan penyediaan air minum layak konsumsi sebagai kebutuhan yang sangat penting.

Oleh karena itu, BUMKam berpeluang mengembangkan unit usaha penyediaan air bersih untuk mempermudah masyarakat memperoleh air bersih secara berkelanjutan. Selain memberikan manfaat sosial, unit usaha tersebut juga berpotensi menjadi sumber pendapatan yang stabil bagi BUMKam.

Unit usaha yang dikembangkan berupa penukaran galon air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sehingga masyarakat dapat dengan mudah memperolah air bersih yang tersedia di kampung BUMKam.

Untuk mewujudkan kondisi tersebut, BUMKam mengembangkan unit usaha penyediaan dan penukaran galon air minum dengan memanfaatkan asset yang telah dimiliki oleh kampung yaitu bangunan ruko sebagai salah satu tempat penjualan karena lokasinya yang berada di tengah kampung. Jarak lokasi kampung yang jauh dari pasar terdekat.

Masyarakat dapat memenuhi kebutuhan pokok dan harian dengan mudah tanpa harus menempuh jarak jauh ke pasar. Sebagai upaya untuk menjawab kebutuhan tersebut, dalam pengembangan usaha berikutnya BUMKam dapat menambah unit usaha toko sembako atau warung serba ada (waserda), bahkan pasar kampung, sehingga masyarakat dapat memperoleh berbagai kebutuhan harian dengan lebih mudah, cepat, dan terjangkau.

Baca juga: 88 Mahasiswa HI Fisip Uncen Magang di 22 Instansi dan lembaga Mitra, Ada yang Magang di KBRI Vietnam  

Aadapun kendala lainnya yang dihadapi yakni pergantian kepengurusan tanpa melakukan kaderisasi dari pengurus lama ke pengurus baru yang mana juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kinerja unit usaha. Pengurus baru yang ditunjuk belum mendapatkan pelatihan dan pendampingan yang memadai terkait pengelolaan unit usaha.

Akibatnya, proses operasional, pengambilan keputusan, serta pelaksanaan program kerja tidak dapat berjalan secara optimal. Kondisi ini menyebabkan aktivitas unit usaha mengalami kemacetan bahkan beberapa kegiatan tidak dapat dijalankan sebagaimana mestinya hingga kapasitas dan pemahaman pengurus baru dapat ditingkatkan melalui pelatihan yang terstruktur

Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan dan potensi yang dimiliki BUMKAM Hensi Ofa, mahasiswa KKN merancang tiga program utama, yaitu sebagai upaya penguatan kapasitas kelembagaan BUMKam Hensi Ofa.

Program pertama adalah sosialisasi peningkatan kapasitas pengurus BUMKam, Program kedua berupa Pengenalan pencatatan keuangan sederhana serta pembaruan dokumen badan hukum BUMKamm.

Program ketiga adalah Pembuatan struktur organisasi pengurus BUMKam Hensi Ofa yang baru sebagai bagian dari penguatan tata kelola kelembagaan dan pembagian tugas yang lebih jelas di antara pengurus. Ketiga program ini dirancang secara sederhana agar dapat dijalankan oleh pengurus secara mandiri setelah masa KKN berakhir.

Program sosialisasi peningkatan kapasitas pengurus BUMKam dilakukan secara langsung yang dihadiri oleh Kepala Kampung selaku penasihat BUMKam Hensi Ofa serta seluruh pengurus BUMKam Hensi Ofa.

Sosialisasi ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman mengenai fungsi, tugas, tata kelola organisasi, serta pengelolaan unit usaha, yang meliputi pengenalan singkat tentang BUMKam, penjelasan mengenai tugas dan tanggung jawab masing-masing pengurus sesuai dengan perannya.

Kemudian dilanjutkan dengan pengenalan pencatatan keuangan sederhana berupa pemaparan dasar mengenai pentingnya pencatatan keuangan dalam pengelolaan unit usaha, guna mewujudkan administrasi yang lebih tertib, akuntabel, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Baca juga: Menyulap Lensa Ponsel Jadi “Mesin Cuan” Serunya Mahasiswa FEBI IAIN Papua Membidik Peluang di Era Digital

Seluruh kegiatan dilaksanakan secara aktif dan interaktif, sehingga proses penyampaian materi tidak hanya berupa penyampaian teori oleh mahasiswa kepada pengurus, tetapi juga disertai dengan praktik langsung agar materi yang diberikan dapat dipahami dan diterapkan dalam pengelolaan BUMKam Hensi Ofa.

Selanjutnya, mahasiswa KKN bersama pengurus BUMKam Hensi Ofa juga menginisiasi proses pembaruan dokumen badan hukum BUMKam Hensi Ofa. Pembaruan ini dilakukan untuk menyesuaikan dokumen kelembagaan dengan kondisi kepengurusan terbaru serta memenuhi ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan adanya dokumen badan hukum yang mutakhir, diharapkan BUMKam Hensi Ofa memiliki legalitas yang lebih kuat sebagai landasan dalam mengembangkan unit usaha, menjalin kerja sama dengan berbagai pihak.

Pengalaman ini menjadi pembelajaran berharga bagi kami mahasiswa KKN mengenai pentingnya kolaborasi lintas ilmu. Mahasiswa menyadari bahwa keberhasilan usaha simpan pinjam tidak semata ditentukan oleh ketepatan sistem administrasi, tetapi juga oleh kesediaan mendengarkan, membangun kepercayaan, dan menumbuhkan kesadaran kolektif anggota terhadap tanggung jawab bersama menjaga keberlanjutan dana bergilir, sebagaimana pentingnya pendekatan penelitian dan pendampingan yang kontekstual dalam studi pemberdayaan masyarakat (Budiaman & Mulyanti, 2021).

Epilog

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kampung Mosso menunjukkan bahwa BUMKam Hensi Ofa memiliki potensi yang besar untuk menjadi penggerak perekonomian kampung. Namun, potensi tersebut masih menghadapi berbagai kendala, terutama pada aspek kapasitas sumber daya manusia, pengelolaan administrasi dan keuangan, serta pemahaman pengurus terhadap tugas dan fungsi masing-masing. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya pengelolaan unit usaha dan pelaksanaan program kerja BUMKam.

Melalui program sosialisasi peningkatan kapasitas pengurus, Pengenalan pencatatan keuangan sederhana, pembaruan dokumen badan hukum BUMKam dan Pembuatan struktur organisasi pengurus BUMKAM Hensi Ofa, mahasiswa KKN telah memberikan pendampingan sebagai langkah awal dalam memperkuat tata kelola BUMKam.

Baca juga: Fisip Uncen Gelar Pelatihan  Jurnalistik Bagi Mahasiswa, Siap Hidupkan Pers Kampus

Kegiatan tersebut diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kapasitas pengurus sehingga pengelolaan BUMKAM menjadi lebih tertib, transparan, akuntabel, dan mampu mendukung keberlanjutan unit usaha yang dijalankan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Kampung Mosso.

Saran

  1. Pengurus BUMKAM Hensi Ofa diharapkan dapat menerapkan secara konsisten hasil pelatihan yang telah diberikan, terutama dalam pencatatan keuangan, administrasi, serta pembagian tugas sesuai struktur organisasi yang telah disusun.
  1. Pemerintah Kampung diharapkan terus memberikan pendampingan, pembinaan, dan pengawasan kepada pengurus BUMKAM agar program dan unit usaha dapat berkembang secara berkelanjutan.
  1. Masyarakat Kampung Mosso diharapkan berpartisipasi aktif dalam mendukung dan memanfaatkan layanan yang disediakan oleh BUMKAM, sehingga keberadaan BUMKAM dapat memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat.
  1. Program pendampingan yang telah dilaksanakan selama KKN diharapkan dapat menjadi dasar bagi pengembangan BUMKAM di masa mendatang, baik melalui peningkatan kapasitas pengurus maupun pengembangan unit usaha yang sesuai dengan potensi dan kebutuhan Kampung Mosso. (*)

Penulis adalah Dosen Pendamping Lapangan dan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih

750 x 100 AD PLACEMENT
You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT