160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Melalui PEACE Youth Symposium 2027, LEKAT Papua Dorong Aksi Ekologi Pemuda

LEKAT Papua akan menyelenggarakan PEACE (Papua Ecological Action for Community and Equality) Youth Symposium 2027.
750 x 100 AD PLACEMENT

Menjadikan Kegelisahan Anak Muda sebagai Gagasan, Penelitian, dan Aksi untuk Ekologi dan Keadilan

JAYAPURA, LIGAKAMPUS.id – Anak muda Papua tidak kekurangan kegelisahan. Yang sering kali kurang adalah ruang untuk mengubah kegelisahan tersebut menjadi gagasan yang terdokumentasi, penelitian yang berbicara, pengabdian yang berdampak, dan aksi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, melalui giat Code4Youth#8 yang diselenggarakan pada Sabtu, 26 September 2026 LEKAT Papua akan menyelenggarakan PEACE (Papua Ecological Action for Community and Equality) Youth Symposium 2027, sebuah forum intelektual yang secara khusus dirancang sebagai ruang bagi anak muda Papua untuk menyampaikan gagasan, hasil penelitian, praktik pengabdian, inovasi, maupun pengalaman aksi mereka dalam merespons berbagai persoalan ekologis, komunitas, dan keadilan ekologis di Papua.

PEACE Youth Symposium tidak dirancang sebagai forum yang sekadar mempertemukan peserta, pembicara, dan tumpukan materi presentasi. Forum ini diharapkan menjadi ruang temu antara pengetahuan dan pengalaman, antara penelitian dan aksi, serta antara kegelisahan anak muda dan kebutuhan nyata masyarakat.

750 x 100 AD PLACEMENT

Dengan keterbukaan bagi anak muda Papua, forum ini akan menghadirkan sejumlah tema yang berkaitan dengan ekologi, masyarakat dan komunitas, perubahan lingkungan, keadilan ekologis, pembangunan berkelanjutan, pengetahuan lokal, kewirausahaan sosial, pendidikan, hingga berbagai praktik baik yang telah dilakukan anak muda di Papua.

Dari Kegelisahan Menjadi Pengetahuan

Manager Program LEKAT Papua, Rori Marwani mengatakan bahwa PEACE Youth Symposium lahir dari kebutuhan untuk menyediakan ruang yang lebih serius bagi anak muda Papua dalam menyampaikan perspektif mereka.

Baca juga: UPA Pengembangan Karir Kewirausahaan Uncen dan LEKAT Papua Launching Buku LOFE: “Revolusi Dimulai dari Piring Makan”

750 x 100 AD PLACEMENT

“Kami melihat banyak anak muda Papua memiliki kegelisahan terhadap apa yang terjadi di lingkungan dan komunitasnya. Mereka melakukan penelitian, menjalankan pengabdian, membangun komunitas, membuat inovasi, bahkan melakukan aksi-aksi kecil di berbagai tempat. Tetapi banyak dari pengalaman itu berhenti sebagai cerita dan belum cukup banyak didokumentasikan sebagai pengetahuan yang bisa dibagikan dan dipelajari bersama,” ungkapnya.

Menurut Rori, PEACE diharapkan dapat menjadi ruang untuk mengubah pengalaman tersebut menjadi pengetahuan yang dapat dipertukarkan.

“Kami ingin PEACE menjadi ruang di mana anak muda tidak hanya datang untuk mendengarkan, tetapi datang membawa sesuatu: penelitian, tulisan, pengalaman lapangan, praktik baik, kegagalan, pembelajaran, maupun gagasan yang belum selesai,” tuturnya.

“Karena pengetahuan tidak selalu lahir dari ruang kelas. Ia juga lahir dari kampung, komunitas, hutan, pesisir, sungai, ruang-ruang belajar, dan pengalaman anak muda ketika berhadapan langsung dengan persoalan di sekitarnya,” sambung dia.

750 x 100 AD PLACEMENT

Ia menambahkan, persoalan ekologis di Papua membutuhkan keterlibatan generasi muda bukan hanya sebagai objek program, tetapi sebagai produsen pengetahuan sekaligus pelaku perubahan.

 Baca juga: Merawat Artivisme: LEKAT Papua dan CODE4YOU Hadirkan TOA di Tengah ECO FEST 4

Forum Intelektual, Bukan Sekadar Forum Seremonial

Koordinator Code4You by LEKAT, Kurniawan Patma menjelaskan bahwa PEACE sebagai bagian dari upaya membangun tradisi intelektual anak muda di tanah Papua yang lebih dekat dengan persoalan nyata.

“PEACE kami bayangkan sebagai forum intelektual anak muda Papua. Tetapi intelektual yang kami maksud bukan hanya mereka yang memiliki gelar atau berada di ruang akademik. Anak muda yang melakukan riset, bekerja bersama komunitas, membangun gerakan, membuat inovasi, mendampingi masyarakat, atau mencoba menyelesaikan persoalan di lingkungannya juga memiliki pengetahuan yang penting untuk dibagikan,” jelasnya.

Menurut Kurniawan, forum tersebut diharapkan dapat mempertemukan berbagai bentuk pengetahuan.

“Kami ingin mempertemukan penelitian dengan praktik. Ada jurnal penelitian, ada jurnal pengabdian, ada presentasi gagasan, dan ada sharing praktik baik. Dengan begitu, orang tidak hanya bertanya ‘apa masalahnya?’, tetapi juga mulai mendiskusikan ‘apa yang sudah dilakukan, apa yang berhasil, apa yang tidak berhasil, dan apa yang bisa kita pelajari bersama?,” ujarnya.

Baca juga: Peluncuran Aplikasi SAKRAL, Jadikan Akuntansi yang Berakar Bagi Adat dan Alam di Papua

Ia menegaskan bahwa PEACE bukan ruang untuk mencari siapa yang paling pintar berbicara tentang ekologi.

“Justru kami ingin membuka ruang yang memungkinkan anak muda Papua berbicara dari pengalaman mereka sendiri. Karena terkadang kita terlalu sibuk membicarakan Papua dari luar Papua, sementara anak mudanya sendiri belum cukup mendapatkan ruang untuk menjelaskan bagaimana mereka melihat tanah, lingkungan, komunitas, dan masa depan mereka,” katanya.

Ekologi Tidak Hanya Tentang Hutan

Mengangkat semangat Papua Ecological Action for Community and Equality, PEACE Youth Symposium akan mendorong pembahasan ekologis secara lebih luas. Ekologi tidak hanya dipahami sebagai persoalan hutan atau lingkungan hidup dalam pengertian sempit.

Ia berkaitan dengan relasi manusia dengan alam, keberlanjutan ruang hidup masyarakat, pengetahuan lokal, ekonomi, pendidikan, kesehatan lingkungan, perubahan iklim, pengelolaan sumber daya, kehidupan komunitas, hingga persoalan keadilan dalam menentukan siapa yang mendapatkan manfaat dan siapa yang menanggung dampak dari perubahan lingkungan.

Karena itu, PEACE membuka kemungkinan hadirnya berbagai perspektif dan disiplin ilmu. Peneliti muda dapat membawa hasil risetnya. Mahasiswa dapat membawa penelitian atau tugas akhirnya. Komunitas dapat berbagi pengalaman pengabdian. Organisasi kepemudaan dapat mempresentasikan praktik baik. Anak muda yang bergerak di bidang lingkungan dapat membawa pengalaman lapangan. Bahkan gagasan yang masih berupa konsep dapat menjadi bagian dari percakapan akademik yang lebih luas.

Dari Papua, Oleh Anak Muda Papua

PEACE Youth Symposium 2027 diharapkan menjadi salah satu ruang yang memperkuat ekosistem intelektual anak muda Papua. Bukan untuk menciptakan forum yang eksklusif, tetapi justru untuk membuka percakapan yang lebih luas. Sebab persoalan ekologis Papua terlalu kompleks jika hanya dibicarakan oleh satu kelompok.

Baca juga: BUMKam Fate Kampung Skouw Mabo: Menata Kelembagaan, Menggerakkan Potensi Kampung

Ia membutuhkan peneliti, mahasiswa, komunitas, aktivis, pelaku usaha, pendidik, pemerintah, masyarakat adat, dan terutama anak muda untuk duduk bersama, saling mendengar, menguji gagasan, dan belajar dari praktik yang telah dilakukan.

Pada akhirnya, PEACE ingin membawa satu semangat sederhana: Papua tidak hanya membutuhkan anak muda yang peduli. Papua juga membutuhkan anak muda yang mampu mengubah kepedulian menjadi pengetahuan, pengetahuan menjadi aksi, dan aksi menjadi perubahan yang dapat dirasakan komunitas.

Dari kegelisahan menjadi tulisan. Dari penelitian menjadi pengetahuan. Dari pengabdian menjadi pembelajaran. Dari praktik baik menjadi inspirasi. Dan dari anak muda Papua, untuk masa depan Papua yang ekologis, inklusif, dan berkeadilan. PEACE Youth Symposium 2027—Where Ideas Meet Action, Where Youth Speak for Papua. (*)

750 x 100 AD PLACEMENT
You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT