Oleh: Dr. Agustina Sanggrangbano, SE., M.Sc., Sipora Epivania Wambrauw, Rifki Hidayat Nurim, Daniel Herman Benhur Injama, Jakson Wanimbo, Muhammad Rizhal Iriansa, Marlina Feronica Kanggunum, Nurul Aini, Lisa Barbalina Mambobo, Yoas Aruman
Di tengah pesatnya perkembangan Kota Jayapura, Kampung Waena hadir dengan wajah yang berbeda. Kampung ini tidak sekadar menjadi kawasan penyangga perkotaan, tetapi juga menyimpan potensi ekonomi lokal yang tumbuh dari kekuatan masyarakatnya sendiri.
Posisi strategis Waena di Distrik Heram menjadikannya berada di simpul aktivitas pendidikan, perdagangan, jasa, dan permukiman. Ironisnya, di tengah hiruk-pikuk kota, potensi ekonomi kampung sering kali luput dari perhatian.
Padahal, masa depan ekonomi lokal dapat dimulai dari kampung yang mampu mengenali, mengelola, dan mengembangkan aset yang telah dimilikinya.
Potensi Kampung Waena sebagai Modal Pembangunan
Hasil pemetaan potensi menunjukkan bahwa Kampung Waena memiliki modal pembangunan yang sangat lengkap. Dari sisi sumber daya alam tersedia air bersih, lahan peternakan, hingga peluang pengembangan perikanan.
Baca juga: Kolam Renang Belum Optimal, Potensi Ekonomi Tertahan: PR Besar BUMKam Kensuwri Kampung Dukwia
Dari sisi sumber daya manusia terdapat peternak, pengrajin noken, kelompok tari Yospan, dan pengrajin ukiran yang mencerminkan kekayaan budaya sekaligus potensi ekonomi kreatif. Di sektor ekonomi, masyarakat telah mengembangkan berbagai UMKM, usaha kuliner, perdagangan, serta pasar kampung yang menjadi pusat aktivitas ekonomi lokal.
Ditambah lagi dengan keberadaan berbagai fasilitas fisik seperti balai kampung, sanggar, pasar, kios, hingga layanan jasa yang memperlihatkan bahwa Waena sesungguhnya telah memiliki fondasi ekonomi yang kuat.
Keunggulan Kampung Waena di Tengah Kota
Keunggulan Kampung Waena tidak hanya terletak pada banyaknya potensi, tetapi juga pada lokasinya yang berada di tengah pusat pertumbuhan Kota Jayapura. Kedekatan dengan pusat perdagangan, lembaga pendidikan, dan akses transportasi memberikan peluang pasar yang lebih luas bagi produk-produk lokal.
Kondisi ini menjadi keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki banyak kampung lain. Oleh karena itu, pembangunan ekonomi Kampung Waena tidak harus dimulai dari membangun potensi baru, tetapi cukup dengan meningkatkan nilai tambah, memperluas pasar, dan memperkuat kelembagaan ekonomi Kampung Waena seperti Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Koyabhu yang saat ini telah berjalan.
Baca juga: BUMKAM & Romantisme Kemandirian: Membangun Ekosistem, Bukan Sekedar Mendirikan Lembaga
BUMKam Koyabhu sebagai Penggerak Potensi Lokal
Di sinilah keberadaan BUMKam Koyabhu menjadi sangat strategis. BUMKam bukan hanya berfungsi sebagai unit usaha kampung, melainkan sebagai lembaga yang mampu mengintegrasikan berbagai potensi menjadi aktivitas ekonomi yang lebih produktif.
Pemetaan menunjukkan bahwa BUMKam telah memiliki unit usaha peternakan ayam petelur serta merancang pengembangan usaha lain, seperti jasa pencucian motor berbasis ketersediaan air bersih, usaha keramba ikan, hingga wisata kuliner.
Hal ini menunjukkan bahwa arah pengembangan BUMKam telah bergerak menuju diversifikasi usaha yang memanfaatkan potensi lokal sebagai keunggulan utama.
Tantangan yang Perlu Dijawab
Meski demikian, potensi yang besar tidak akan memberikan manfaat optimal tanpa pengelolaan yang baik. Hasil pemetaan juga mengidentifikasi beberapa tantangan, seperti belum optimalnya keaktifan sebagian pengurus, perlunya penguatan kapasitas manajerial, pengembangan unit usaha baru, serta peningkatan tata kelola administrasi dan pelaporan keuangan.
Baca juga: “Tinggalkan Karya, Bukan Konten”: Kritik Mark Imbiri untuk Mahasiswa KKN Uncen di Yapen
Tantangan tersebut bukanlah indikator kegagalan, melainkan bagian dari proses menuju kelembagaan ekonomi kampung yang lebih profesional. Dengan penguatan tata kelola, pemanfaatan teknologi, dan pendampingan yang berkelanjutan, BUMKam dapat semakin berperan sebagai motor penggerak ekonomi kampung.
Kolaborasi sebagai Kunci Masa Depan
Pembangunan ekonomi Kampung Waena tidak dapat dibebankan hanya kepada pemerintah kampung ataupun pengurus BUMKam, tetapi juga dibutuhkan kolaborasi antara masyarakat kampung, pemerintah daerah, pemerintah pusat, perguruan tinggi, dunia usaha, dan generasi muda untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif.
Pembangunan ekonomi Kampung Waena melalui BUMKam perlu mendapatkan pendampingan dan treatment khusus dari pemerintah daerah melalui instansi terkait seperti Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Kota Jayapura yang berkolaborasi dengan pemerintah pusat melalui Balai Pelatihan dan Pembinaan Masyarakat Desa dan Daerah Tertinggal (BPPMDDT) Kementrian Desa Wilayah Papua.
Baca juga: Mahasiswa Tiga Program Studi FISIP Uncen Ikuti Pelatihan Menulis Feature dan Literasi Digital
Secara khusus, kehadiran mahasiswa melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN), misalnya KKN FEB UNCEN 2026 ini, tidak hanya berfungsi sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai mitra yang membantu memetakan potensi, memperkuat administrasi, meningkatkan kapasitas pengurus, dan mendorong inovasi pengembangan usaha berbasis kebutuhan kampung. (*)
Penulis adalah Dosen Pendamping Lapangan dan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kelompok 4 Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih