JAYAPURA, LIGAKAMPUS.ID- Dalam rangka memeriahkan Hari Masyarakat Adat Internasional, Yayasan Mitra BUMMA, Yayasan 3M, Yayasan Econusa, Universitas Cenderawasih (Uncen) dan Universitas Ottow Geissler (UOG)menggelar rangkaian kegiatan yang mempertemukan pendidikan, masyarakat adat, dan pengembangan ekonomi berbasis adat.
Salah satu agendanya adalah soft launching Aplikasi Sistem Akuntansi Keuangan dalam Relasi Adat dan Alam (SAKRAL) yang dilaksanakan di Aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Sabtu (10/8/2026).
Soft launching SAKRAL dilaksanakan di sela-sela Peluncuran Program Khusus Sarjana Kehutanan Adat dan Sarjana Ekonomi Bisnis Adat yang diinisiasi melalui kolaborasi Yayasan Mitra BUMMA, Yayasan 3M, Yayasan Econusa, Universitas Cenderawasih (Uncen), dan Universitas Ottow Geissler (UOG).
Kegiatan ini dihadiri oleh Masyarakat Adat Suku Namblong serta jajaran pengurus BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, sehingga peluncuran SAKRAL tidak hanya menjadi momentum pengenalan teknologi, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan pendekatan baru dalam pengelolaan dan pelaporan keuangan yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat adat.
Baca juga: BUMKam Fate Kampung Skouw Mabo: Menata Kelembagaan, Menggerakkan Potensi Kampung
Menghadirkan Akuntansi dalam Konteks Kehidupan Masyarakat Adat
Penemu Aplikasi SAKRAL, Kurniawan Patma menjelaskan bahwa SAKRAL merupakan aplikasi yang diciptakan oleh dirinya dan Novi Trihadi sebagai sebuah inovasi untuk menjembatani sistem akuntansi dengan konteks kehidupan masyarakat adat dan pengelolaan sumber daya alam.

“Berbeda dengan aplikasi akuntansi konvensional yang umumnya berorientasi pada transaksi ekonomi dan angka-angka keuangan, SAKRAL mencoba menghadirkan akun-akun kontekstual yang merepresentasikan hubungan masyarakat dengan alam dan kehidupan sosial budayanya,” jelasnya dalam keterangan tertulis yang diterima Ligakampus.Id.
Kurniawan membeberkan bahwa tiga pendekatan akun kontekstual yang menjadi ciri khas SAKRAL adalah akun biologis, akun ekologis, dan akun sosial budaya.
“Ketiganya dirancang untuk membantu melihat kekayaan dan aktivitas masyarakat adat tidak semata-mata dari nilai ekonomi, tetapi juga dari keberadaan manusia, alam, serta nilai sosial dan budaya yang hidup di dalam komunitas,” ujarnya.
Tak hanya itu, Kurniawan menambahkan bahwa Keunikan lainnya terletak pada penggunaan nomenklatur laporan yang disesuaikan dengan perspektif kehidupan masyarakat adat.
Baca juga: Menggali Potensi, Membangun Kemandirian: Penguatan BUMKam Ja’a Nene di Kampung Skouw Sae
“SAKRAL memperkenalkan sejumlah bentuk pelaporan seperti Laporan Potensi Kekayaan Adat, Laporan Kesejahteraan Komunal, dan Laporan Arus Kehidupan,” ungkapnya.
Dengan pendekatan tersebut, laporan keuangan tidak hanya diposisikan sebagai dokumen administratif, tetapi juga sebagai instrumen untuk membaca kekayaan, kesejahteraan, hubungan manusia dengan alam, serta keberlanjutan kehidupan komunitas adat.
Dari Angka Keuangan Menuju Catatan Kehidupan
Menurut Kurniawan, SAKRAL dibangun dari gagasan bahwa sistem akuntansi perlu mampu mengikuti konteks masyarakat yang dilayaninya.
Lebih lanjut, kata Kurniawan, bagi masyarakat adat, kekayaan tidak hanya berupa uang, aset dan keuntungan, tetapi juga mencakup hutan, tanah, air, keanekaragaman hayati, pengetahuan adat, relasi sosial, serta warisan yang akan diteruskan kepada generasi berikutnya.

Karena itu, SAKRAL berupaya menghadirkan akuntansi yang tidak hanya bertanya berapa nilai yang dimiliki, tetapi juga apa yang dimiliki, siapa yang merasakan manfaatnya, bagaimana alam dijaga, dan apa yang diwariskan kepada generasi berikutnya.
Baca juga: BUMKam Henticahi Bangkit: Menata Usaha, Merajut Potensi Kampung Holtekamp
“Pendekatan ini menjadi relevan bagi pengembangan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) yang membutuhkan sistem pengelolaan keuangan sekaligus instrumen untuk menjaga hubungan antara aktivitas ekonomi, masyarakat adat, dan alam,” katanya.
SAKRAL dan Buku Simpul Adat, Alam dan Akuntansi
Dalam rangkaian kegiatan yang sama juga dilaksanakan launching buku Simpul Adat, Alam dan Akuntansi yang ditulis oleh Kurniawan Patma.
Buku tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari gagasan SAKRAL. Jika aplikasi menjadi instrumen digital untuk mencatat dan membaca kehidupan ekonomi masyarakat adat, maka buku Simpul Adat, Alam dan Akuntansi menjadi ruang untuk menjelaskan gagasan, pemikiran, dan hubungan antara adat, alam, dan akuntansi.
Kurniawan menyatakan, peluncuran aplikasi dan buku ini sekaligus menandai upaya untuk mempertemukan pengetahuan akademik, teknologi, dan pengetahuan masyarakat adat* dalam membangun model ekonomi yang lebih kontekstual dan berkelanjutan.
Bagi masyarakat adat Suku Namblong dan pengurus BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, kehadiran SAKRAL diharapkan dapat menjadi bagian dari perjalanan menuju tata kelola BUMMA yang semakin tertib, transparan, dan tetap berakar pada nilai-nilai adat.
Baca juga: Setahun Berlalu, BUMKam Nupmana Koya Tengah Menanti Pengelolaan yang Lebih Baik
Soft launching SAKRAL pada momentum Hari Masyarakat Adat Internasional ini menjadi simbol bahwa teknologi dan akuntansi tidak harus menjauhkan masyarakat dari adat dan alam. Sebaliknya, teknologi dapat dikembangkan untuk mencatat, menjaga, dan memperkuat apa yang dianggap penting oleh masyarakat adat.
“SAKRAL pada akhirnya bukan sekadar aplikasi akuntansi, tetapi sebuah upaya untuk menghadirkan akuntansi yang mengenal konteks, menghargai adat, membaca alam, dan berpihak pada keberlanjutan kehidupan generasi mendatang,” tutupnya. (*)