160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Menggali Potensi, Membangun Kemandirian: Penguatan BUMKam Ja’a Nene di Kampung Skouw Sae

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.
750 x 100 AD PLACEMENT

Oleh: Stephanny Inagama Timisela, SE., M.Si, Jihan Putri Hajrah, E Silda Yigibalon, Maracana Paska Lena Bisay, Cahya Wulan Riani Rumbawa, Salsabila Rizky Ramadhani, Sarce Pasifika Daimboa, Viviani Imelda Kamo, Tri Asnita Datu Arrang.

Prolog

Di ujung timur Indonesia, tepat pada kawasan perbatasan Republik Indonesia dan Papua Nugini, Kampung Skouw Sae menyimpan kekayaan yang tidak hanya berupa sumber daya alam, tetapi juga budaya dan pengetahuan lokal.

Pantai yang menghadap Samudra Pasifik, perairan pesisir dan muara, kebun sagu, kelapa dan pinang, hasil pertanian, kerajinan masyarakat, aktivitas perdagangan di sekitar perbatasan, serta Rumah Adat Tangfa merupakan modal penting untuk membangun kemandirian ekonomi kampung.

750 x 100 AD PLACEMENT

Potensi tersebut menunjukkan bahwa Skouw Sae memiliki peluang besar untuk berkembang apabila seluruh sumber daya dapat dikelola secara terarah, terpadu, dan berkelanjutan.

Untuk mengelola potensi tersebut, Pemerintah Kampung Skouw Sae telah membentuk Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Ja’a Nene. Nama “Ja’a Nene” mengandung arti “kepunyaan kami”, yang mencerminkan semangat kepemilikan bersama atas kekayaan kampung.

Baca juga: BUMKam Henticahi Bangkit: Menata Usaha, Merajut Potensi Kampung Holtekamp

Namun, pengalaman di lapangan memperlihatkan bahwa keberadaan sumber daya dan modal belum otomatis menghasilkan usaha yang berkelanjutan. Persoalan terbesar justru terletak pada tata kelola, kapasitas sumber daya manusia, pemasaran, pertanggungjawaban keuangan, serta konsistensi pengurus dalam menjalankan kegiatan usaha.

750 x 100 AD PLACEMENT

Isi

Perjalanan Kelompok 9 dimulai pada 29 Juni 2026 melalui apel pelepasan dan penyerahan mahasiswa KKN Universitas Cenderawasih. Setelah menerima pengarahan, seluruh anggota berangkat menuju Kampung Skouw Sae dengan membawa semangat untuk belajar sekaligus mengabdi.

Pertemuan awal dengan Kepala Kampung dan pihak BUMKam menjadi pintu masuk untuk mengenali kebutuhan masyarakat dan menentukan arah program kerja. Sejak saat itu hingga 31 Juli 2026, mahasiswa menjalani kehidupan bersama masyarakat, membangun komunikasi dengan aparat kampung, Bamuskam, pengurus BUMKam dan warga, serta melaksanakan kegiatan administrasi, sosial, ekonomi, keagamaan, kebersihan lingkungan, dan pendampingan kelembagaan.

Pada 31 Juli 2026, perjalanan lapangan Kelompok 9 mencapai tahap akhir dengan penyelesaian program tambahan berupa pembuatan papan nama Wisata Pantai Skouw Sae. Hari tersebut juga diisi dengan kegiatan bersama masyarakat dan mahasiswa KKN dari kampung sekitar. Selanjutnya, pada 1 Agustus 2026, mahasiswa Kelompok 9 secara resmi ditarik dari lokasi KKN oleh Dosen Pembimbing Lapangan.

750 x 100 AD PLACEMENT

Baca juga: Menembus Batas Literasi: Merajut Pemberdayaan di Dunia Pendidikan dan Pembukuan Sederhana Sesuai Realitas Pengurus BUMKam Kampung Yanamaa

Penarikan tersebut menandai berakhirnya masa tinggal mahasiswa di Kampung Skouw Sae, tetapi bukan berakhirnya perhatian terhadap keberlanjutan BUMKam Ja’a Nene. Berbagai dokumen, temuan, dan rekomendasi yang telah disusun diharapkan menjadi bagian dari proses panjang pembangunan ekonomi kampung.

Selama berada di Skouw Sae, mahasiswa menemukan bahwa kampung ini memiliki potensi ekonomi yang beragam dan saling berhubungan. Wilayah pesisir dapat mendukung kegiatan perikanan dan wisata, sedangkan kebun sagu, kelapa, pinang, sayuran, dan tanaman pangan dapat menjadi dasar pengembangan produk lokal.

Masyarakat juga memiliki keterampilan membuat sagu bakar, noken, kriya, kuliner, dan berbagai produk rumah tangga. Kedekatan dengan Pos Lintas Batas Negara Skouw membuka peluang pemasaran kepada masyarakat, wisatawan, dan pelintas batas. Potensi tersebut tidak seharusnya dikembangkan secara terpisah, melainkan dirangkai menjadi suatu ekosistem ekonomi kampung.

Di balik besarnya potensi tersebut, BUMKam Ja’a Nene menghadapi persoalan kelembagaan yang cukup serius. Berdasarkan hasil koordinasi dan wawancara, BUMKam pernah menjalankan usaha kios, koperasi atau pemberian modal, budidaya ikan lele, keramba ikan, pertanian sayuran, dan pembinaan usaha masyarakat.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.

Sebagian usaha berhenti karena rendahnya permintaan, tingginya persaingan, terbatasnya pemasaran, serta lemahnya kesinambungan pengelolaan. Pada usaha koperasi dan kios, banyak pinjaman atau pembelian secara utang yang tidak dikembalikan sehingga modal tidak dapat berputar. Kondisi tersebut ikut menyebabkan BUMKam tidak aktif menjalankan kegiatan operasional selama kurang lebih dua tahun.

Baca juga: Semangat Kebersamaan dan Partisipasi Jadi Kunci Keberhasilan BUMkam Yabu Eruwok di Kampung Baburia Keerom

Menghadapi kondisi itu, Kelompok 9 tidak datang dengan anggapan bahwa seluruh persoalan BUMKam dapat diselesaikan dalam waktu satu bulan. Pendampingan dimulai dengan mengumpulkan informasi melalui koordinasi bersama Kepala Kampung, BAMUSKAM, bendahara dan pengurus BUMKam.

Pada 9 Juli 2026, mahasiswa melakukan wawancara dengan bendahara BUMKam, meninjau salah satu lokasi usaha, serta menghimpun data untuk penyusunan Laporan Pertanggungjawaban. Data tersebut kemudian dibahas bersama dan disusun menjadi draf LPJ. Pada 13 Juli 2026, draf LPJ diserahkan kepada Sekretaris Kampung untuk ditinjau sebagai bagian dari upaya menertibkan administrasi BUMKam.

Kontribusi Kelompok 9 kemudian diperluas melalui penyusunan profil BUMKam Ja’a Nene, kajian identifikasi potensi Kampung Skouw Sae, dan bahan rekomendasi revitalisasi kelembagaan. Kajian tersebut tidak sekadar mencatat bahwa kampung mempunyai pantai, ikan, sagu, kelapa, pinang, hasil pertanian, budaya, dan UMKM.

Setiap potensi dilihat berdasarkan kondisi yang tersedia, pelaku yang mengelola, peluang pasar, kendala, kebutuhan pendampingan, risiko, dan kemungkinan peran BUMKam. Pendekatan ini penting agar keputusan usaha tidak dibuat hanya berdasarkan perkiraan, tetapi didukung oleh hasil observasi, wawancara, bukti pasar, serta kesepakatan masyarakat.

Baca juga: Menata Kepengurusan, Menumbuhkan Harapan: Revitalisasi BUMKam Hensi Ofa di Kampung Mosso  

Semangat kegiatan tersebut dirangkum melalui tema KAMI MEMBUMI, yaitu Kolaborasi Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Ekonomi Membangkitkan BUMKam Inklusif. Ilmu Akuntansi diterapkan melalui upaya penertiban administrasi dan penyusunan pertanggungjawaban. Sedangkan Ilmu Manajemen digunakan untuk melihat pentingnya struktur pengurus, pembagian tugas, perencanaan, dan pengawasan.

Sementara itu, Ilmu Ekonomi membantu mahasiswa menghubungkan potensi lokal dengan kebutuhan pasar, nilai tambah, dan kesejahteraan masyarakat. Kolaborasi ketiga bidang ilmu tersebut menunjukkan bahwa penguatan BUMKam membutuhkan pendekatan yang menyeluruh.

KKN di Skouw Sae juga tidak hanya berlangsung melalui penyusunan dokumen. Mahasiswa terlibat dalam berbagai kegiatan sosial bersama masyarakat, seperti ibadah, gotong royong membersihkan lingkungan, penyambutan tamu, kegiatan bersama pemuda, bermain dan belajar bersama anak-anak, serta membantu mama-mama dalam aktivitas sehari-hari, termasuk proses pembuatan sagu bakar.

Interaksi tersebut membuat mahasiswa memahami bahwa pembangunan kampung tidak dapat dipisahkan dari kepercayaan, kebersamaan, adat, dan hubungan sosial. Data yang baik hanya dapat diperoleh ketika mahasiswa hadir, mendengar, dan menghargai pengalaman masyarakat sebagai pemilik kampung.

Baca juga: Setahun Berlalu, BUMKam Nupmana Koya Tengah Menanti Pengelolaan yang Lebih Baik

Perhatian terhadap lingkungan juga menjadi bagian penting dari kegiatan Kelompok 9. Mahasiswa bersama masyarakat membersihkan lingkungan, membakar dan mengumpulkan sampah, memberikan apresiasi kepada anak-anak yang ikut menjaga kebersihan, serta menyelesaikan pembuatan papan nama Wisata Pantai Skouw Sae pada 31 Juli 2026.

Kegiatan ini membawa pesan bahwa pengembangan wisata harus dimulai dari kepedulian terhadap kebersihan dan identitas lokasi. Pantai yang indah tidak akan memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan apabila sampah, fasilitas, keamanan, promosi, dan pengelolaannya tidak ditangani bersama.

Dari seluruh kegiatan tersebut, Kelompok 9 menyimpulkan bahwa revitalisasi BUMKam Ja’a Nene harus dimulai dari pemulihan kelembagaan, bukan langsung dari pemberian modal baru atau pembukaan banyak unit usaha.

Pemerintah kampung bersama Bamuskam dan masyarakat perlu menetapkan pengurus definitif, melakukan serah terima dokumen dan aset, menyelesaikan persoalan piutang, memperbaiki laporan keuangan, serta menyusun aturan kerja dan rencana bisnis.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Papua.

Setelah fondasi tersebut terbentuk, BUMKam dapat memulai satu usaha percontohan dalam skala kecil berdasarkan ketersediaan bahan baku dan kepastian pembeli. BUMKam juga sebaiknya berperan sebagai penghubung, pengolah, dan pemasar yang memperkuat usaha masyarakat, bukan menjadi pesaing bagi pelaku ekonomi lokal.

Baca juga: Kolam Renang Belum Optimal, Potensi Ekonomi Tertahan: PR Besar BUMKam Kensuwri Kampung Dukwia

Epilog

Pengalaman mendampingi BUMKam Ja’a Nene mengajarkan bahwa kemandirian ekonomi kampung tidak lahir hanya karena tersedia sumber daya alam, bantuan, atau modal usaha. Kemandirian dibangun melalui manusia yang memiliki kemampuan, pengurus yang bertanggung jawab, administrasi yang tertib, pasar yang jelas, dan masyarakat yang terlibat dalam setiap keputusan.

Skouw Sae telah memiliki modal alam, budaya, sosial, dan geografis yang kuat. Tantangannya adalah merangkai seluruh modal tersebut menjadi kekuatan ekonomi yang dikelola secara konsisten dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Kehadiran Kelompok 9 memang dibatasi oleh waktu, tetapi pengabdian tidak semata-mata diukur dari lamanya mahasiswa tinggal di kampung. Nilainya terletak pada pengetahuan yang dibagikan, hubungan yang dibangun, dokumen yang ditinggalkan, dan proses yang berhasil dimulai.

Baca juga: BUMKAM & Romantisme Kemandirian: Membangun Ekosistem, Bukan Sekedar Mendirikan Lembaga

Dari Kampung Skouw Sae, kami belajar bahwa membangun BUMKam berarti membangun kepercayaan dan tanggung jawab bersama. Kelompok 9 berharap BUMKam Ja’a Nene dapat kembali aktif, bertumbuh bersama usaha masyarakat, dan benar-benar menjadi milik bersama—Ja’a Nene, kepunyaan kami. (*)

Penulis adalah Dosen Pendamping Lapangan dan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih

750 x 100 AD PLACEMENT
You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT