160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT
160 x 600 AD PLACEMENT

Menembus Batas Literasi: Merajut Pemberdayaan di Dunia Pendidikan dan Pembukuan Sederhana Sesuai Realitas Pengurus BUMKam Kampung Yanamaa

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Yanamaa, Kabupaten Keerom, Papua.
750 x 100 AD PLACEMENT

Oleh: Bresman Sigalingging, S.Sos, Annisa Zalsadilla Haslin, Elisabeth Samantha Korwa, Hertin Waroi, Mutiara Beatrix Sarwom, Oktavince Susan Ijie, Georgorita Rufina Akan, Veby Valentina Gombo, Oktavia Kristin Neno

Prolog

Kampung Yanamaa merupakan salah satu kampung yang terletak di Distrik Arso, Kabupaten Keerom, dengan kondisi geografis berupa dataran yang relatif mudah di akses dari Kota Jayapura meski harus melewati wilayah pegunungan.

Kampung ini dihuni sekitar 395 Kepala Keluarga (KK) yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani dan pedagang. Sejak tahun 2022, warga menopang perekonomian bersama melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam) Yafase yang bergerak di sektor agribisnis, khususnya usaha penggemukan sapi dan produksi pupuk, dan telah berjalan secara berkelanjutan tanpa vakum sejak awal berdirinya.

750 x 100 AD PLACEMENT

Di balik konsistensi operasionalnya, BUMKam Yafase masih menghadapi tantangan tata Kelola,  terutama pada aspek pembukuan yang sudah berjalan namun masih bersifat manual dan belum tertata rapi sehingga menyulitkan pelaporan berkala kepada warga. Selain persoalan internal tersebut, tim KKN juga menghadapi tantangan berupa rendahnya partisipasi warga dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan selama masa pengabdian.

Informasi mengenai kondisi ini kami tau langsung dari bendahara BUMKam mengenai kendala yang dihadapinya dalam menjalankan tugas administrasi keuangan. Rendahnya Tingkat pendidikan semacam ini bukan sekedar persoalan individu, melainkan kondisi yang lazim menandai desa-desa dengan keterbatasan akses pendidikan, dan pada gilirannya turut memengaruhi kemampuan masyarakat mengelola potensi ekonominya secara mandiri (K. Endah, 2020).

Kondisi ini menegaskan bahwa persoalan BUMKam Yafase tidak dapat dilepaskan dari isu pendidikan yang lebih luas di Kampung Yanamaa, sebab pengelolaan usaha kampung yang inklusif dan berkelanjutan pada akhirnya bergantung pada literasi dasar generasi muda dan pengurusnya.

Baca juga: Semangat Kebersamaan dan Partisipasi Jadi Kunci Keberhasilan BUMkam Yabu Eruwok di Kampung Baburia Keerom

750 x 100 AD PLACEMENT

Dengan hal ini, selain mendampingi BUMKAM Yafase merumuskan pembukuan sederhana yang realistis, kami juga menjalankan program pemberdayaan pendidikan melalui kegiatan belajar bersama anak-anak setiap hari di posko dan mengajar di SD Negeri Inpres Pir 1 sebagai upaya menanamkan fondasi literasi sejak dini yang diharapkan turut menopang keberlanjutan tata kelola BUMKam serta perekonomian kampung di masa depan.

Refleksi dan Aksi KKN

Berdasarkan observasi dan pendampingan yang dilakukan, ditemukan bahwa pencatatan keuangan di BUMKam Yafase, baik pada unit usaha penggemukan sapi, unit usaha pupuk, maupun tingkat bendahara, masih dilakukan secara manual.

Pada unit usaha penggemukan sapi misalnya, pencatatan menggunakan buku folio kas dengan format tabel nomor, keterangan, debit, kredit, namun kolom debit-kredit tersebut di ubah sendiri oleh penanggung jawab unit usaha menjadi kategori “modal” dan “penjualan” tanpa mengikuti kaidah pencatatan akuntansi baku.

750 x 100 AD PLACEMENT
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Yanamaa, Kabupaten Keerom, Papua.

Laporan keuangan yang sampai ke bendahara pun pada dasarnya bersumber dari catatan masing-masing unit usaha, sementara pencatatan di tingkat bendahara sendiri juga masih dilakukan secara manual dan belum tertata sistematis.

Dilihat dari perspektif akuntansi, manajemen, dan ilmu ekonomi yang menjadi latar belakang tim kami, kondisi ini mencerminkan persoalan klasik pada level akuntansi sederhana (cash basis) di tingkat unit usaha mikro perkampungan, yaitu lemahnya standarisasi pencatatan yang berimplikasi pada sulitnya penyusunan laporan keuangan yang akurat.

Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (S. Hasnawati, Yuningsih, E. Hendrawaty, 2022) (2022) (Zulbetti et al., 2019) yang menunjukkan bahwa pengurus BUMDes di berbagai daerah kerap menghadapi kendala serupa dalam hal literasi keuangan, sehingga pelatihan dan pendampingan menjadi kebutuhan mendasar dalam mendukung tata kelola badan usaha milik desa maupun kampung.

Baca juga: Menata Kepengurusan, Menumbuhkan Harapan: Revitalisasi BUMKam Hensi Ofa di Kampung Mosso  

Menjawab persoalan tersebut, kami merancang program pendampingan pembukuan sederhana yang difokuskan pada penanggungjawab unit usaha penggemukan sapi sebagai unit usaha utama BUMKam Yafase. Program ini meliputi perbaikan pencatatan pada buku kas manual agar lebih rapi dan terstruktur sesuai kaidah pencatatan yang benar, serta penyediaan file excel sederhana yang berisi format pencatatan pemasukan, pengeluaran, dan laporan keuangan yang dapat digunakan secara berkala, baik bulanan maupun tahunan.

Pendekatan pendampingan berbasis pembukuan sederhana semacam ini juga terbukti efektif meningkatkan kesadaran pelaku usaha mikro akan pentingnya pencatatan sebagai dasar pengambilan keputusan bisnis (Alinsari, 2020). Pendekatan ini sengaja dipilih agar solusi yang diterapkan tetap realistis dan dapat diterapkan sesuai kapasitas pengurus, mengingat keterbatasan literasi yang dialami bendahara BUMKam.

Selain itu, penerapan pembukuan sederhana yang disesuaikan dengan kapasitas pelaku usaha juga berperan penting dalam mendukung keberlangsungan usaha, khusnya bagi unit usaha berskala mikro seperti yang dijalankan BUMKam Yafase (Wayan et al., 2025).

Meski demikian, pendampingan langsung kepada bendahara tidak dapat dilaksanakan karena yang bersangkutan berhalangan hadir pada saat pelatihan berlangsung, sehingga materi pelatihan disampaikan kepada ketua, sekretaris, dan penanggung jawab unit usaha penggemukan sapi sebagai pihak yang diharapkan dapat meneruskan pemahaman tersebut kepada bendahara.

Baca juga: Setahun Berlalu, BUMKam Nupmana Koya Tengah Menanti Pengelolaan yang Lebih Baik

Sejalan dengan program pembukuan tersebut, kami juga menjalankan program pemberdayaan di bidang pendidikan sebagai respon atas keterbatasan literasi dasar yang kami temui. Setiap hari kami membuka kegiatan belajar bersama di posko bagi anak-anak Kampung Yanamaa, mencakup pendampingan membaca, menulis, perhitungan dasar, dan mewarnai, serta turut mengajar di SD Negeri Inpres Pir 1.

Program ini kami pahami bukan sekedar kegiatan pengisi waktu, melainkan investasi jangka panjang bagi kampung, sebab rendahnya tingkat pendidikan yang dialami sebagian warga, pada akhirnya turut membatasi kapasitas mereka dalam mengelola potensi secara mandiri dan berkelanjutan (K. Endah, 2020).

Proses implementasi kedua program berjalan dengan dinamika yang berbeda. Sosialisasi pembukuan diawali antusiatisme awal yang cukup tinggi dari masyarakat kampung yang dihadiri oleh kepala kampung, tokoh agama, pengurus BUMKam, hingga masyarakat umum. Namun, pada hari pelaksanaan pelatihan inti, peserta yang hadir hanya terbatas pada ketua, sekretaris, dan penanggung jawab unit usaha penggemukan sapi.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat melakukan KKN di Kampung Yanamaa, Kabupaten Keerom, Papua.

Sebaliknya, kegiatan belajar bersama di posko dan di  SD Negeri Inpres Pir 1 mendapat sambutan antusias dari guru, anak-anak, maupun orang tua yang konsisten mengikuti kegiatan setiap harinya. pengurus, termasuk pihak yang paling membutuhkan pendampingan langsung.

Baca juga: Kolam Renang Belum Optimal, Potensi Ekonomi Tertahan: PR Besar BUMKam Kensuwri Kampung Dukwia

Dampak awal dari program ini paling terlihat pada unit usaha penggemukan sapi, sementara transfer pemahaman kepada bendahara dipropyeksikan belangsung secara tidak langsung, yakni melalui pendampingan lanjutan dari penanggung jawab unit usaha sapi kepada bendahara. Sedangkan program belajar anak-anak diharapkan membangun fondasi literasi yang akan menopang generasi pengurus BUMKam berikutnya.

Pengalaman pendampingan ini memberikan pembelajaran berharga bagi kami mengenai pentingnya kolaborasi lintas keilmuan akuntansi, manajemen, dan ilmu ekonomi dalam merumuskan solusi yang tidak hanya benar secara teori, tetapi juga membumi dan sesuai dengan realitas kapasitas Masyarakat kampung.

Kami menyadari bahwa pemberdayaan masyarakat tidak sealalu berjalan sesuai rencana ideal, seperti halnya ketidakhadiran bendahara yang justru mengajarkan tim untuk lebih fleksibel dan berpikir strategis dalam menyalurkan pengetahuan, misalnya melalui pendekatan antar pengurus.

Pengalaman ini menegaskan bahwa keberhasilan program pemberdayaan ekonomi kampung tidak hanya diukur dari transfer keterampilan teknis semata, tetapi juga kepekaan terhadap kondisi sosial dan literasi masyarakat yang di dampingi.

Baca juga: BUMKAM & Romantisme Kemandirian: Membangun Ekosistem, Bukan Sekedar Mendirikan Lembaga

Epilog

Program pendampingan yang dilaksanakan oleh kami di BUMKam Yafase, Kampung Yanamaa, menunjukkan bahwa kesengajaan antara tuntutan regulasi pengelolaan badan usaha kampung yang semakin modern dengan realitas kapasitas sumber daya manusia di tingkat lokal masih menjadi tantangan nyata, dan bahwa persoalan tersebut berakar pada kondisi Pendidikan Masyarakat yang lebih luas.

Melalui perbaikan sistem pencatatan pada unit usaha penggemukan sapi serta program belajar bersama anak-anak di posko dan SD Negeri Inpres Pir 1, kami berupaya menjawab persoalan teersebut baik dari sisi tata kelola keuangan maupun akar literasi pendidikannya, meski intervensi ini belum menjangkau seluruh pengurus secara merata.

Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih, saat KKN di Kampung Yanamaa, Kabupaten Keerom, Papua.

Berdasarkan temuan tersebut, kami merekomendasikan agar pengurus BUMKam Yafase dapat melanjutkan penerapan sistem pencatatan yang telah diperbaiki secara konsisten, serta mendorong transfer pengetahuan antar pengurus agar seluruh pihak termasuk bendahara, dapat turut memahami dan menjalankan proses pembukuan sesuai kapasitas masing-masing.

Pemerintah kampung diharapkan dapat memberikan dukungan berupa pelatihan lanjutan atau pendampingan berkala dari pihak terkait, mengingat keterbatasan literasi merupakan persoalan yang memerlukan penanganan bertahap dan berkelanjutan, bukan sekali intervensi.

Sementara itu, bagi perguruan tinggi dan mahasiswa KKN berikutnya, disarankan untuk merancang program lanjutan yang tetap memadukan pendampingan tata kelola BUMKam dengan program pendidikan bagi anak-anak kampung, agar pengelolaan BUMKam yang inklusif dan berdampak nyata dapat tumbuh beriringan dengan peningkatan kualitas pendidikan masyarakat Kampung Yanamaa. (*)

Baca juga: Di Pusat Kota Jayapura, Kampung Waena Menyimpan Masa Depan Ekonomi Lokal Berbasis Potensi Kampung

Penulis adalah Dosen Pendamping dan Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih

750 x 100 AD PLACEMENT
You might also like
930 x 180 AD PLACEMENT