JAYAPURA, LIGAKAMPUS.id– Pelaksanaan ECO FEST 4 Universitas Cenderawasih (UNCEN) tidak hanya diramaikan oleh pameran produk kewirausahaan mahasiswa dan masyarakat adat. Suasana festival menjadi lebih hidup dan kritis dengan hadirnya panggung TOA (Titik Orasi dan Aksi) yang diinisiasi oleh LEKAT Papua dan CODE4YOU (Community Development For Youth).
Alih-alih menggunakan mimbar formal atau demonstrasi konvensional, panggung TOA dikemas sebagai ruang terbuka kreatif. Mahasiswa dibebaskan menyampaikan keresahan, kritik, serta harapan mereka terhadap kondisi sosial dan lingkungan di Papua melalui media puisi, stand-up comedy, musik, lagu, hingga cerita komedi pendek khas Papua (mob).
Artivisme: Titik Temu Bisnis, Seni, dan Gerakan Sosial
Kehadiran TOA di tengah festival kewirausahaan ini membuktikan bahwa orientasi ekonomi mahasiswa tidak harus terpisah dari kesadaran sosial. Gerakan seni-aktivisme (artivisme) ini sengaja dirawat untuk memberikan wadah bagi anak muda Papua dalam membaca realitas di sekeliling mereka.
Baca juga: Fisip Uncen Gelar Pelatihan Jurnalistik Bagi Mahasiswa, Siap Hidupkan Pers Kampus
Melalui bait puisi dan melodi musik, para mahasiswa menyuarakan pesan mendalam mengenai ancaman terhadap ruang hidup, hutan, laut, dan tanah ulayat Papua. Sementara melalui stand-up comedy dan mob, kritik-kritik tajam terhadap kebijakan yang timpang disampaikan lewat humor segar yang lebih mudah diterima oleh publik luas.

Menuntut Keadilan Ekologis di Tanah Papua
Lebih dari sekadar hiburan di sela festival, panggung TOA menjadi corong penting untuk mendiskusikan isu keadilan ekologis. Kerusakan alam di Papua disoroti bukan sekadar sebagai kehilangan data keanekaragaman hayati atau deforestasi, melainkan sebagai ancaman nyata terhadap hilangnya identitas, ruang spiritual, serta sumber pangan masyarakat adat antargenerasi.
Artivisme melalui TOA mencoba menggugah kesadaran mengenai siapa yang sebenarnya menikmati hasil dari eksploitasi kekayaan alam Papua, dan siapa yang harus menanggung dampak kerusakannya. Pendekatan ini membumikan isu lingkungan hidup yang rumit ke dalam narasi kemanusiaan yang emosional dan dekat dengan keseharian anak muda.
Dari Ekspresi Kreatif Menuju Aksi Nyata
Inisiator kegiatan dari LEKAT Papua dan CODE4YOU berharap panggung ekspresi ini tidak berhenti sebagai pemanis acara atau tontonan sesaat. TOA dirancang menjadi pemantik awal bagi tumbuhnya budaya kritis yang sehat di lingkungan kampus.
Baca juga: “Tinggalkan Karya, Bukan Konten”: Kritik Mark Imbiri untuk Mahasiswa KKN Uncen di Yapen
Melalui ruang publik alternatif ini, mahasiswa UNCEN didorong untuk bertukar gagasan dan bergerak bersama menjaga kelestarian ekologis Papua. Panggung TOA menjadi pengingat kuat bahwa membangun ekosistem bisnis dan akademik harus berjalan beriringan dengan komitmen menjaga tanah kehidupan, kebudayaan, dan kemanusiaan di Papua. (*)