JAYAPURA, LIGAKAMPUS.id– Universitas Cenderawasih (UNCEN) membuat gebrakan baru dalam dunia pendidikan tinggi di Tanah Papua. Melalui momentum ECO FEST 4 (Entrepreneurship Collaboration Festival), UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan UNCEN menggandeng Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) PT Yombe Namblong Nggua untuk mendorong konsep indigenous entrepreneurship masuk ke dalam ruang siber akademik.
Langkah konkret ini diwujudkan melalui kerja sama dengan Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNCEN untuk membuka “Kelas Ekonomi Bisnis Adat”. Kelas ini dirancang khusus untuk mencetak generator ekonomi lokal yang mampu mengelola bisnis tanpa merusak tatanan adat dan lingkungan.
Akuntansi Bukan Sekadar Hitung Untung-Rugi
Ketua UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan UNCEN, Kurniawan Patma, menegaskan bahwa model ekonomi konvensional yang bercorak industri ekstraktif sudah saatnya dievaluasi di Papua. Menurutnya, ilmu akuntansi di lingkungan kampus harus didekonstruksi agar relevan dengan konteks wilayah setempat.
Baca juga: “Tinggalkan Karya, Bukan Konten”: Kritik Mark Imbiri untuk Mahasiswa KKN Uncen di Yapen
“Kita ingin memproduksi tenaga-tenaga yang mampu menggerakkan indigenous entrepreneurship, khususnya dalam menyimpul alam, adat, dan akuntansi,” ujar Kurniawan.
Ia menekankan bahwa jika akuntansi hanya digunakan untuk mengukur keuntungan finansial semata, maka nilai-nilai krusial seperti keberlanjutan hutan, kualitas relasi sosial, dan hak generasi masa depan akan hilang dari catatan keuangan. “Akuntansi harus hadir tidak hanya tentang angka, tetapi juga tentang bagaimana kita merawat alam dan adat,” tegasnya.
Praktik Nyata Ekonomi Adat Non-Ekstraktif
Hadirnya BUMMA PT Yombe Namblong Nggua dalam festival ini menjadi bukti nyata bagi mahasiswa bahwa masyarakat adat mampu mandiri secara ekonomi tanpa harus mengeksploitasi alam berskala besar.
Baca juga: Inilah Program Kerja BEM Uncen Periode 2026-2027
Dalam ECO FEST 4, BUMMA memperkenalkan berbagai unit usaha komersial yang dikelola secara profesional, seperti komoditas pertanian vanili berkualitas, produk perikanan, kuliner tradisional gedi gulung (swotpun), hingga sektor pariwisata berbasis komunitas melalui Nggam Bu Ecotourism.

Model bisnis ini menjadi ruang simulasi hidup bagi mahasiswa UNCEN untuk mempelajari bagaimana mengidentifikasi potensi lokal dan mengemasnya ke dalam ekosistem pasar modern secara etis.
Membangun Ekosistem Berkelanjutan
Kolaborasi strategis ini diposisikan sebagai wadah mutualisme. Kampus UNCEN menyuplai riset, tata kelola manajemen, dan peningkatan kapasitas bisnis. Di sisi lain, masyarakat adat memegang pengetahuan lokal, kepemilikan komunal, dan legitimasi wilayah ulayat.
Baca juga: 88 Mahasiswa HI Fisip Uncen Magang di 22 Instansi dan lembaga Mitra, Ada yang Magang di KBRI Vietnam
Kurniawan berharap program Kelas Ekonomi Bisnis Adat serta kemitraan dengan BUMMA ini tidak mandek sebagai jargon festival semata. “Kita ingin agar mahasiswa UNCEN tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga mampu menjadi pencipta usaha yang memahami konteks Papua dan memiliki keberpihakan kepada masyarakat adat,” pungkasnya. (*)