Ligakampus.id – Jumat malam (4/9/2026), ada kehangatan yang berbeda di tengah Ibadah Pemuda Remaja Pantekosta (Pelprap) GPdI SINAI Nabire. Di antara nyanyian, doa, dan kumpulnya kaum muda, lahir sebuah langkah kecil yang membawa harapan besar: terbentuknya kepengurusan Relawan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Kabupaten Nabire.
Momen ini jauh dari sekadar deklarasi formalitas organisasi. Ini adalah titik mula bagi anak-anak muda Nabire untuk saling merangkul, belajar, dan lebih bijak menavigasi derasnya arus dunia digital.
Malam itu, kepercayaan disematkan kepada Axelin Jesy Imbiri sebagai Ketua Umum Relawan TIK Kabupaten Nabire untuk masa bakti 2026-2030. Di pundaknya, dan di pundak kawan-kawan pengurus, dititipkan mimpi untuk menjadikan wadah ini sebagai ruang aman bagi anak muda untuk bertumbuh bersama.
Semangat baru ini disambut penuh syukur oleh Ketua Pemuda GPdI SINAI Nabire, Gasper Imbiri. Bagi Gasper, layar gawai dan dunia maya telah menjadi denyut nadi keseharian anak muda zaman sekarang. Namun, ia menaruh harapan yang lebih dalam dari sekadar rutinitas scrolling di media sosial.
“Pemuda jangan hanya sekadar jadi penikmat atau pengguna,” pesannya malam itu. Gasper ingin teknologi menjadi alat bagi anak muda untuk melahirkan karya positif, menyebarkan kebaikan, dan turun tangan langsung menjawab persoalan yang ada di tengah gereja maupun masyarakat.
Rasa bangga yang sama turut dirasakan Mecky Tebai, Sekretaris Wilayah Relawan TIK Provinsi Papua Tengah. Ia melihat binar antusiasme dari anak-anak muda yang hadir sebagai nyawa sebenarnya dari pergerakan ini. Baginya, deretan nama dalam struktur kepengurusan tidak akan bermakna tanpa adanya karya nyata yang manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh warga.
“Dengan semangat yang sudah terhimpun ini, saya berharap Relawan TIK Nabire bisa menjadi ruang bagi anak-anak muda untuk saling menguatkan. Ini bukan cuma soal seberapa pintar kita memakai teknologi, tapi tentang tanggung jawab dan empati. Bagaimana teknologi itu bisa mengulurkan tangan untuk membantu orang lain,” ujar Mecky dengan penuh harap.
Lebih jauh, Mecky berpesan agar Relawan TIK Nabire segera melangkah keluar dan merajut persahabatan dengan banyak pihak. Mulai dari sekolah, gereja, masjid, komunitas anak muda, hingga pemerintah daerah. Tujuannya satu: membangun kesadaran literasi digital bersama-sama di Provinsi Papua Tengah.
Bagi Mecky, derasnya kemajuan zaman bukanlah raksasa yang harus ditakuti, melainkan ombak yang harus dipelajari cara berselancarnya. “Anak muda harus berani belajar. Jangan pernah merasa kerdil atau tertinggal karena teknologi terus berubah. Yang terpenting adalah kemauan kita untuk menggunakan teknologi di jalan yang benar,” tegasnya.
Perjalanan panjang ke depan tentu menuntut kerja keras, konsistensi, dan ketulusan hati para pengurusnya. Namun, dari sebuah persekutuan sederhana ini, telah lahir satu tekad jernih: pemuda Nabire kini siap berdiri di garis depan, bukan sekadar terseret arus zaman, melainkan memanfaatkan teknologi demi kebaikan sesama dan kemajuan daerah. (Paulus Jufu)