LIGAKAMPUS.ID – Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) bersama pemuda dari berbagai dedominasi gereja mendorong pembentukan ruang aman bagi generasi muda Papua untuk menyampaikan aspirasi, pengalaman, serta isu-isu sosial, baik secara langsung maupun melalui media digital.
Hal tersebut menjadi poin utama dalam Lokakarya Pemanfaatan Media untuk Advokasi Perdamaian dan Keadilan di Tanah Papua, yang berlangsung di Aula Amazing Grace Hotel, Jayapura, Senin (14/9/2026). Agenda ini diikuti sekitar 20 peserta dari unsur pemuda dan perwakilan gereja.
“Gereja dan keluarga harus menjadi ruang aman, di mana anak-anak merasa senang untuk hadir dan bersuara, sebagaimana anak-anak senang datang kepada Yesus.” – Pdt. Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI
Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, menegaskan bahwa gereja dan keluarga harus meneladani keteladanan Yesus dalam memberikan ruang yang ramah dan aman bagi anak-anak serta pemuda.
Ia menambahkan, pengalaman pahit maupun dinamika sosial di Papua tidak boleh membuat umat Kristen apatis atau responsif secara negatif. Umat diajak menjadi agen perdamaian melalui penguatan literasi digital dan pelatihan media perdamaian.
Untuk membangun ekosistem perdamaian tersebut, Darwin menekankan pentingnya sinergi yang berkelanjutan antara gereja, organisasi non-pemerintah (NGO), serta para relawan.
Lima Program Kolaborasi Media Perdamaian
Dalam kesempatan yang sama, perwakilan RelawanTIK dari Komdigi, Aldo Mooy Selaku Sekretaris Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) RelawanTIK di Tanah Papua, yang sering di sapa dengan Kak aldo, mengingatkan pentingnya pemahaman regulasi dan tingkat literasi digital yang memadai bagi pemuda yang aktif melakukan advokasi media. Pemuda di himbau untuk memahami aturan Perlindungan Data Pribadi (PDP), Undang-Undang ITE, serta regulasi ruang digital lainnya.
Sebagai langkah konkret, Aldo mengusulkan lima program kolaborasi strategis bersama pemuda gereja:
“Upaya membangun perdamaian di Tanah Papua bukanlah kerja individu atau kelompok tertentu, melainkan pekerjaan kolaboratif dan kolektif,” tegas Aldo.
Aspirasi Pemuda: Keadilan, Pendidikan, dan Keamanan Digital
Dukungan juga datang dari kalangan muda. Kepala Seksi Persekutuan Anggota Muda (PAM) Klasis GKI Port Numbay, Satria, menilai materi keadilan dan keamanan digital sangat krusial bagi pemuda. Ia menyoroti berbagai isu krusial di daerah, seperti dampak Proyek Strategis Nasional (PSN), perlindungan hak atas tanah adat, serta kelestarian lingkungan hidup.
“Pesan saya untuk seluruh pemuda di Tanah Papua: mari kita terus bergandengan tangan memperjuangkan keadilan dan menjaga alam ciptaan Tuhan,” imbau Satria.
Sementara itu, Bella Julyanti Walli, pemuda Jemaat Maranatha Yoboy Klasis Sentani, menyoroti tantangan kesetaraan dan keadilan akses pendidikan bagi anak-anak Papua. Ia berharap pelatihan serupa terus digalakkan agar ruang bersuara bagi pemuda semakin terbuka luas.
“Yang perlu dilakukan pemuda dan gereja adalah memperbanyak ruang aman agar makin banyak suara yang dapat disuarakan,” kata Bella.
Usai pelatihan, Bella berkomitmen membagikan edukasi keamanan digital termasuk perlindungan data sensitif seperti nomor ponsel dan alamat surat elektronik (email) kepada komunitas, jemaat, dan persekutuan pemuda di wilayahnya.
Melalui kolaborasi berkelanjutan antara gereja, pemuda, dan pemangku kepentingan lainnya, lokakarya ini diharapkan mampu memperluas ruang aman bagi anak muda Papua dalam memanfaatkan media digital sebagai sarana edukasi, keadilan, dan advokasi perdamaian. (Alin)