
Di balik riuh yudisium FEB Universitas Ottow Geissler Papua, tersimpan kisah tentang lonjakan prestasi, keteguhan spiritual, dan komitmen merangkul keterbatasan.
Jayapura, 10 Juni 2026 – Senyum lega dan rona kebahagiaan tak henti menghiasi wajah para mahasiswa di aula Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ottow Geissler Papua, Rabu pagi itu. Tepat pukul 10.00 – 11.30 WIT, kehangatan begitu terasa memenuhi ruangan.
Di sudut-sudut aula, para orang tua dengan mata berkaca-kaca tampak sibuk mengabadikan momen berharga anak-anak mereka lewat layar ponsel. Sementara itu, para mahasiswa saling berpelukan dan berjabat tangan, merayakan akhir dari sebuah perjalanan panjang.
Bagi 33 mahasiswa yang hadir hari itu, mengenakan pakaian rapi untuk yudisium bukanlah sekadar formalitas. Ini adalah gerbang validasi; sebuah garis batas tegas yang menandai transformasi mereka dari seorang pencari ilmu menjadi penyandang gelar sarjana.
Di tengah suasana penuh haru dan kebanggaan tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ottow Geissler Papua, Jimmi Ari Duri, S.E., M.Si., berdiri menyaksikan para mahasiswa yang telah menyelesaikan perjalanan akademiknya. Baginya, yudisium merupakan sebuah ketukan palu akademik yang sakral.
“Yudisium merupakan bagian dari proses resmi penetapan kelulusan mahasiswa. Ini adalah syarat akademik yang wajib dipenuhi. Tanpa yudisium, seorang mahasiswa belum dapat menyatakan dirinya lulus secara formal, meskipun seluruh mata kuliah telah diselesaikan,” ungkap Jimmi dengan nada tegas namun penuh rasa syukur.
Pada periode ini membawa kabar menggembirakan bagi civitas akademika FEB. Kebanggaan terpancar saat Jimmi memaparkan statistik kelulusan yang menunjukkan peningkatan yang signifikan. Jika pada semester sebelumnya fakultas meluluskan 29 mahasiswa, kali ini jumlah tersebut meningkat menjadi 33 lulusan.
Namun, pencapaian yang paling membanggakan terletak pada kualitas akademik para lulusan. Dari 33 peserta yudisium, sebanyak 16 mahasiswa berhasil meraih predikat pujian (cum laude).
“Secara akademik, semester ini mengalami peningkatan yang sangat membanggakan. Sebanyak 16 orang lulus dengan predikat pujian. Jika dihitung, jumlah tersebut setara dengan 49,99 persen dari total lulusan. Artinya, hampir setengah dari lulusan periode ini merupakan lulusan terbaik,” jelas Jimmi sambil tersenyum.
Ketika berbicara mengenai hal yang membedakan lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ottow Geissler Papua dengan lulusan perguruan tinggi lainnya, Jimmi tidak langsung menyoroti kurikulum modern maupun fasilitas kampus. Ia justru mengajak melihat fondasi yang lebih mendasar, yaitu pembentukan karakter dan nilai-nilai spiritual.
Menurutnya, kampus tidak hanya berfokus pada pencapaian akademik yang tercermin dalam transkrip nilai. Sesuai dengan visi dan misi institusi, aspek spiritualitas kristiani menjadi bagian penting dalam proses pendidikan mahasiswa.
“Kami tidak hanya fokus pada peningkatan intelektual atau bidang akademik semata. Sesuai visi kami, mahasiswa dididik untuk memiliki rasa takut akan Tuhan. Fondasi spiritual dan mentalitas yang kuat inilah yang kami siapkan agar mereka tangguh saat menghadapi dunia kerja yang penuh tantangan,” tuturnya.
Lebih dari sekadar membangun ketangguhan spiritual, FEB juga menerjemahkan nilai-nilai kemanusiaan melalui praktik pendidikan yang inklusif. Di lingkungan kampus, perbedaan fisik tidak menjadi penghalang untuk memperoleh hak pendidikan yang setara.
Jimmi menjelaskan bahwa fakultas membuka akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa penyandang disabilitas. Mereka mendapatkan pendampingan dan bimbingan secara berkelanjutan agar dapat menyelesaikan studi dengan baik.
“Kami hadir untuk semua segmen mahasiswa. Bahkan bagi mahasiswa penyandang disabilitas, kami memberikan pendampingan dan bimbingan secara penuh, langkah demi langkah, hingga mereka berhasil menyelesaikan studinya dan berdiri tegak sebagai Sarjana Ekonomi,” ujarnya.
Menjelang akhir perbincangan, Jimmi menitipkan pesan khusus kepada para lulusan. Sebuah refleksi yang realistis sekaligus menguatkan bagi mereka yang akan memasuki dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Sebagai seorang akademisi, ia menggunakan analogi yang dekat dengan dunia akademik para mahasiswa untuk menggambarkan dinamika kehidupan setelah lulus kuliah. Menurutnya, kehidupan nyata sering kali menuntut kemampuan adaptasi yang lebih besar daripada yang diajarkan dalam teori.
“Dunia kerja tidak selalu berjalan secara linear. Sama seperti kurva permintaan dalam ilmu ekonomi, kadang naik, kadang turun. Bahkan ada situasi di lapangan yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh teori ekonomi,” pesannya.
Ia mengakui bahwa fase transisi dari mahasiswa menjadi alumni akan menghadirkan berbagai tantangan dan tekanan sosial. Pertanyaan yang sebelumnya berkisar pada ‘kapan lulus’ akan bergeser menjadi ‘kapan bekerja’, bahkan kemudian ‘kapan menikah’.
Karena itu, Jimmi berharap ilmu yang diperoleh selama menempuh pendidikan dapat menjadi kompas yang menuntun para lulusan dalam menghadapi berbagai perubahan kehidupan.
“Selain memiliki kecerdasan akademik, saya berharap para lulusan tetap menjadi pribadi yang rendah hati, menjaga etika, adaptif, dan tidak pernah takut mempelajari hal-hal baru. Lulusan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Ottow dan Gaissler Papua harus peka terhadap nilai-nilai kemanusiaan serta memiliki tanggung jawab sosial di tengah masyarakat,” pungkasnya. (Alyn Beay)