Oleh: Rachmaeny Indahyani, SE. MA, Mochamad Sheva Ananda, Wa Elvi, Alexandra Alfinie Homer, Betolin Keiya, Ety Olivia Bewela, Desi Adelce Bsunaiwally, Aguino Uropmabin, Natalia Tsunami Bulu Wonda Bahimuda
Prolog
Pembangunan kampung tidak bisa dilepaskan dari pertumbuhan ekonomi yang terukur dan berkelanjutan. Salah satu instrumen yang dipersiapkan untuk mewujudkan tujuan tersebut adalah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau Badan Usaha Milik Kampung (BUMKam).
Kehadiran BUMKam diharapkan mampu mengelola potensi lokal, meningkatkan pendapatan kampung, membuka lapangan kerja bagi masyarakat, serta mempercepat pembangunan infrastruktur. Namun, realitas di lapangan menunjukkan tidak semua BUMKam mampu menjalankan fungsinya dengan optimal. Kampung Dukwia dengan BUMKam nya adalah contoh nyata dari tantangan ini yang memerlukan perhatian serius dari semua pihak.
Potensi Ekonomi Kampung Dukwia: Belum Berubah Menjadi Pendapatan
Kampung Dukwia, Distrik Arso Barat, Kabupaten Keerom menghadapi paradoks yang mengkhawatirkan. Di satu sisi, kampung memiliki potensi sumber daya alam yang melimpah dan beragam. Namun di sisi lain, potensi tersebut belum terkonversi menjadi pendapatan ekonomi nyata yang dapat dirasakan masyarakat.
Baca juga: BUMKAM & Romantisme Kemandirian: Membangun Ekosistem, Bukan Sekedar Mendirikan Lembaga
Lapak usaha BUMKam yang seharusnya menjadi pusat aktivitas ekonomi justru dialihfungsikan menjadi hunian tanpa rencana bisnis yang jelas. Kolam renang sebagai fasilitas pariwisata masih terbengkalai tanpa dioperasionalkan secara profesional. Sumber daya pertanian, peternakan, dan potensi turisme lainnya belum dikelola dengan strategi yang tepat untuk menghasilkan pendapatan berkelanjutan.
Pertanyaan mendesak adalah: mengapa potensi berlimpah namun pendapatan tetap minim? Jawabannya sederhana: Untuk unit usaha kolam renang tanpa didukung dana yang memadai tidak akan terealisasi, sedangkan untuk unit usaha lapak dibutuhkan sistem pengolaan manajemen yang baik.
Menunggu Sentuhan Tata Kelola Keuangan dan Manajemen
Analisis mendalam terhadap kondisi BUMKam Kensuwri mengungkap bahwa masalah utama bukanlah ketiadaan potensi, melainkan ketiadaan dana dan tata Kelola manajemen yang profesional dan terukur. Jenis kampung transmigrasi memberikan keunggulan dalam hal keberagaman sumber daya manusia, sumber daya alam dan modal sosial yang kuat.
Potensi pariwisata dengan kolam renang sebagai daya tarik utama sangat relevan mengingat aksesibilitas lokasi dan permintaan pasar lokal yang cukup besar. Namun, semua potensi ini memerlukan manajemen yang tepat, perencanaan strategis yang matang, sumber dana yang memadai dan kepemimpinan yang visioner.
Baca juga: Fisip Uncen Gelar Pelatihan Jurnalistik Bagi Mahasiswa, Siap Hidupkan Pers Kampus
Saat ini, apa yang hilang adalah: pertama, perencanaan bisnis dan alokasi anggaran yang jelas dan terukur; kedua, struktur organisasi yang profesional; ketiga, sistem pengelolaan aset yang transparan; keempat, mekanisme pengambilan keputusan yang efektif. Tanpa tata kelola yang baik, potensi akan terus menjadi aset yang tersimpan tanpa memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
BUMKam Harus Bertransformasi Dari Pelaksanaan Program Menjadi Pelaku Bisnis
Tantangan terbesar BUMKam Kensuwri adalah belum terjadinya transformasi fundamental dari sebuah organisasi yang berfokus pada pelaksanaan program menjadi sebuah badan usaha yang berfokus pada profit dan keberlanjutan bisnis. Saat ini, mindset pengurus masih berorientasi pada: pencairan anggaran, melaporkan kegiatan, dan menyelesaikan target administratif. Padahal, BUMKam seharusnya berfungsi sebagai: perusahaan yang menguntungkan, penciptaan nilai ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat melalui profit sharing.
Transformasi ini memerlukan perubahan paradigma yang signifikan. Pertama, dari mentalitas serving (melayani program) menjadi mentalitas earning (menghasilkan profit). Kedua, dari struktur hierarki birokratis menjadi struktur organisasi bisnis yang fleksibel dan responsif. Ketiga, dari akuntabilitas administratif menjadi akuntabilitas finansial yang ketat. Keempat, dari fokus pengeluaran anggaran menjadi fokus revenue dan efisiensi biaya. Transformasi ini bukan hal mudah, tetapi sangat penting untuk memastikan BUMKam dapat memberikan dampak ekonomi nyata bagi masyarakat Kampung Dukwia.
Digitalisasi Tata Kelola Sebagai Pondasi Akuntabilitas
Dalam era digital ini, tata kelola BUMKam tidak bisa lagi mengandalkan sistem manual dan pencatatan paper-based yang rentan terhadap kesalahan dan manipulasi. Digitalisasi tata kelola menjadi pondasi yang sangat penting untuk membangun akuntabilitas yang kuat dan kepercayaan publik terhadap BUMKam.
Baca juga: 88 Mahasiswa HI Fisip Uncen Magang di 22 Instansi dan lembaga Mitra, Ada yang Magang di KBRI Vietnam
Implementasi digitalisasi mencakup: pertama, sistem keuangan terintegrasi yang mencatat setiap transaksi dengan detail dan real-time; kedua, database asset management yang komprehensif untuk mengelola semua aset BUMKam; ketiga, aplikasi pelaporan yang transparan sehingga masyarakat dapat mengakses informasi kinerja BUMKam kapan saja; keempat, sistem pengelolaan SDM yang dapat mengoptimalkan produktivitas pengurus.
Digitalisasi ini tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional, tetapi juga membangun kepercayaan masyarakat bahwa BUMKam dikelola dengan transparan, profesional, dan akuntabel. Lebih penting lagi, digitalisasi memungkinkan BUMKam untuk mengakses pasar yang lebih luas melalui e-commerce, social media marketing, dan platform digital lainnya. Dengan digitalisasi, BUMKam Kensuwiri akan siap memasuki era ekonomi digital dan dapat bersaing di tingkat yang lebih luas.
Epilog
Perjalanan transformasi BUMKam Kensuwri tidaklah mustahil, tetapi memerlukan komitmen, dedikasi, dan strategi yang terukur dari semua stakeholder. Kampung Dukwia memiliki potensi yang luar biasa, namun potensi tersebut hanya akan menjadi kenyataan jika diikuti oleh tata kelola yang profesional, transformasi organisasi yang fundamental, dan adopsi teknologi digital yang komprehensif.
Saat ini adalah momentum yang tepat untuk melakukan perubahan besar-besaran dalam cara BUMKam dikelola dan dioperasionalkan. Tidak boleh lagi menunggu atau menunda. Setiap hari yang berlalu tanpa aksi nyata adalah peluang ekonomi yang hilang bagi masyarakat Kampung Dukwia. Oleh karena itu, kepada semua pengurus BUMKam, pemerintah daerah, akademisi, dan masyarakat kampung: saatnya untuk bersama-sama membawa perubahan nyata.
Ubah potensi menjadi pendapatan, optimalkan tata kelola, transformasikan organisasi, dan adopsi digitalisasi. Dengan langkah-langkah konkret ini, BUMKam Kensuwri akan menjadi contoh nyata bagaimana badan usaha milik kampung dapat menjadi motor penggerak ekonomi yang sesungguhnya dan membawa kesejahteraan bagi seluruh warganya. Masa depan Kampung Dukwia ada di tangan kita semua, mulai dari sekarang, bukan nanti. (*)
Penulis adalah Dosen Pendamping Lapangan bersama mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Dari Kelompok 30 yang berasal dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Cenderawasih