Oleh: Benidiktus Bame
Memang mengeluh itu bagian dari pemborosan waktu dan energi, tetapi mau sampai kapan kualitas hidup orang mare harus diperbaiki, kemajuan suatu daerah di ukur dari seberapa baik kualitas hidup masyarakatnya.
Dari jalan kaki 20 tahun silam hingga kini masyarakat suku mare terus menikmati kehidupan yang tidak terpisahkan dari masa lalu.
Lika liku kehidupan masyarakat suku mare perjalanan yang penuh emosional tidak selalu stabil, terlihat bagus di Slide Power Point setiap rapat pemda maybrat, RKPD jalan baik tetapi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Mare sangat rendah, angka stunting tinggi.
Ini menunjukan bahwa kesereusan pemerintah untuk memberikan rasa aman, dan mendorong pemerataan pembangun hanya menjadi omongan manis saat kampanye di panggung pilkada Maybrat.
Tantangan ini sunggu berat bagi orang mare untuk menjalaninya, apa salah orang Mare terhadap Pemda Maybrat ?
Apa salah orang mare terhadap Pemerintah Negara Kesatuan Republik Indonesia ?
Orang mare masih memiliki 68,202 Hektar hutan yang masih berdiri rapi, tetapi nasib sumber daya manusia di distrik mare menjadi pekerja berat yang harus di kerjakan semua stakeholder di mare.
Sepanjang orang mare tidak bersatu maka nasib SDM dan Stunting akan terus buruk di wilayah mare.
Jadi, berdasarkan hasil survey tentang quality of life masyarakat suku mare kami telah menemukan sejumlah masalah perlu ada intervensi pemerintah kabupaten maybrat guna menyelamatkan orang mare dari yang tersisa.
Beberapa aspek yang kami gali dalam survey terutama di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya dan infrastruktur.
Pertama aspek ekonomi, Berdasarkan penghasilan petani Masyarakat Suku Mare memiliki penghasilan kurang dari Rp500.000 (100%).
Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendapatan masyarakat tergolong rendah.
Kondisi ini mencerminkan keterbatasan ekonomi yang dihadapi masyarakat Mare. Rendahnya penghasilan juga berpengaruh terhadap kualitas hidup. Berdasarkan pekerjaan, Masyarakat didominasi oleh petani sebesar 81.4%.
Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat menggantungkan hidup pada sektor pertanian. Kondisi ini mencerminkan karakteristik ekonomi masyarakat pedesaan.
Pekerjaan sebagai petani juga berkaitan erat dengan pemanfaatan sumber daya alam.
Total presentasi rata-rata ekonomi masyarakat suku mare berada diatas 94,4 % paling tinggi di Maybrat, hal ini menjunkan ekonomi orang mare masih buruk.
Faktor penyebab utama kualitas hidup masyarakat suku mare kurang optimal disebabkan karena akses jalan dengan presentasi 62,9%, secara dominan menjadi hambatan utama aktifitas perekenomian mereka.
Selain itu kondisi jalan telah dirasakan seluruh masyarakat mare dan berdampak langsung pada proses pendistribusian hasil pertanian serta mobilitas masyarakat.
Ini sudah bertahun-tahun masyarakat sangat kendala mengakses kebutuhan mereka. Tak hanya itu hambatan akses jalan juga berdampak pada peningkatan biaya transport presentasi 72.9%, ini menjadi beban nyata bagi masyarakat suku mare.
Karena biaya yang tinggi akan berdampak langsung pada kenaikan harga kebutuhan pokok.
Keterbatasan akses jalan membatasi peluang kerja masyarakat di luar wilayah mereka dengan presentasi 57.1%, Hal ini mengindikasikan bahwa keterbatasan mobilitas menjadi penghambat utama dalam memperoleh pekerjaan.
Sehingga kondisi ini berdampak pada rendahnya pendapatan masyarakat. Bagimana dampak jalan dilihat dari aspek Pendidikan, Kesehatan, ekonomi dan Budaya yang berdampak langsung ke masyarakat suku Mare.
Akses jalan yang buruk mempersulit masyarakat, terutama anak-anak, dalam menjangkau fasilitas pendidikan dengan presentasi 87,1%. Hal ini mengindikasikan bahwa kondisi geografis menjadi tantangan dalam pendidikan.
Hambatan ini berpotensi menurunkan tingkat partisipasi sekolah dan mengancam beberapa sekolah di mare akan tutup karena krisis murid, tak hanya itu angka putus sekolah di mare saat ini sangat tinggi dari data yang di peroleh tahun 2020- 2026 sudah terdeteksi 534 anak putus sekolah di Mare.
Berdasarkan permendikbut 47 tahun 2023 tentang standar sarana dan prasarana bahwa setiap sekolah dasar di buka khususnya untuk daerah 3T jumlah siswa minimal 15 orang per klas maksimal 28 siswa per klas tetapi di Mare satu kelas 5 sampai 6 siswa per klas artinya sekolah-sekolah ini tidak memenuhi syarat.
Hal serupa dengan kesehatan sangat kendala masyarakat dalam memperoleh layanan kesehatan yang baik dengan presentasi 62.9%, Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kesehatan bagi masyarakat.
Hambatan akses menyebabkan keterlambatan penanganan medis bagi pasien. Untuk aspek budaya masyarakat menyadari pentingnya pembinaan budaya bagi generasi muda dengan presentasi 51,4% Hal ini menunjukkan adanya kesadaran terhadap pengaruh budaya luar.
Pembinaan diperlukan untuk menjaga nilai lokal agar budaya orang mare tidak hilang. Dengan demikian, pelestarian budaya menjadi penting.
Oleh karena itu, Coram Populo di depan public perlu kita menyampaikan isi hati masyarakat suku mare karena ini menjadi sebuah ancama serius masa depan orang mare di Kabupaten Maybrat.
Di luar maybrat orang kampanyekan generasi emas menyambut Indonesia emas 2045 apakah masih ada anak-anak mare lain akan sampai di tahun 2045 ?
Pertanyaan ini sekaligus menjadi refleksi kita bersama perlu ada intervensi dari semua pihak terhadap nasib masa depan generasi Mare ke depan. Banyak masalah yang diutarakan diatas perlu ada kebijakan khusus dari pemerintah Maybrat agar dalam perjalanan ke depan masyarakat suku mare bisa memperbaiki kualitas hidup secara efektif dan efisien.
Dengan demikian, masalah diatas telah menjadi atensi bersama khususnya pemerintah Maybrat, Provinsi Papua Barat daya. Ada beberapa hal yang menjadi solusi dalam penulisan ini.
Pertama, perlu ada proteksi tentang kualitas hidup orang mare dari aspek ekonomi, pendidikan, kesehatan, budaya dan pembangunan insfrastruktur agar masyakat adat suku mare mampu memperdayakan hidup mereka melalui karya mereka sendiri.
Kedua, pemerintah kabupaten maybrat perlu mendorong peningkatan jalan yang menjadi keluhatan utama masyarakat suku mare karena banyak sekali petani yang ingin membawa hasil jualan mereka ke kota tetapi akses jalan yang kurang baik akhirnya harga semakin membengkat di bidang trasportasi.
Ketiga, pemerintah kabupaten maybrat perlu meningkatkan jaringan seluler dan lampu penerang di semua wilayah mare agar warga dan siswa dapat mengases segala infomasi tentang pendidikan dan harga pasar di Sorong.
Penulis adalah Pemuda Asal Suku Mare Kabupaten Maybrat,
Provinsi Papua Barat Daya